Tempat Parkir Kampus

21 October 2011

Mati Dalam Kehidupan

Filed under: Tulisan Brutal — Cahyo Adi Nugroho @ 10:28 PM

Musuh Negara itu ada 2, yang pertama adalah orang yang mati dalam kehidupan, yang kedua adalah sebaliknya, orang yang hidup dalam kematian.

Saya tidak terlalu paham dengan apa yang disebut dengan hidup dalam kematian, tetapi ada banyak analogi yang menjelaskan orang yang mati dalam kehidupan.

orang yang mati dalam kehidupan itu adalah sekelompok orang yang terus menerus minta dinaikkan gajinya sementara banyak rakyat Indonesia yang malam ini tidak makan.

Orang yang tidak mau tau itu milik siapa, itu duit siapa, diambil. Persetan katanya.

Sekelompok orang yang hobinya makan aspal dan material bangunan, yang harusnya untuk membangun banyak sekolah yang atapnya bocor, kayunya keropos yang sewaktu-waktu bisa roboh dan menimbun semangat anak-anak polos yang harusnya tidak usah belajar pancasila saja. Pancasila telah gagal menjaga perasaan mereka.

Sekelompok orang yang dengan seluruh kesempatan kedua yang diberikan masih juga gagal membangun Negara, lalu yang berhasil dibangun itu rumah siapa?

Sekelompok orang penjilat orang-orang asing yang malah semakin bebas mengeruk kekayaan Indonesia dan meninggalkan kerusakan yang sudah tidak mungkin diperbaiki. Oke undang-undang investasi berjalan sangat-sangat sukses.

Sekelompok orang yang kenceng-kencengan suara, bagus-bagusan istilah saat rapat, lemparan-lemparan botol air mineral, dan sekelompok yang lain tidur. Drama yang dimasukkan di TV, setiap orang yang menonton dibuat semakin bingung dan pada akhirnya cuma bertanya, “jadi harga beras sudah bisa turun belum?”

Sekelompok orang menggelikan dengan pola pikir menggelikan, Negara mana lagi yang gedung parlemennya ada kolam renang dan ruang spa?

Reshuffle saja 27 kali, biar semua dapat bagian duit

15 October 2011

Studi Banding Ke Undip

Filed under: Tulisan Brutal — Cahyo Adi Nugroho @ 10:41 AM

Mayday mayday, Semarang panas sekali bahkan pada jam segini !

Mengesankan sekali orang-orang Semarang bisa tahan hidup di suhu setinggi ini setiap hari. Di suhu seperti ini pasti jemuran bisa kering hanya dalam waktu 2 jam, dan besoknya bisa dipakai untuk ke kampus lagi. Dengan panas seperti ini mungkin orang-orang sini akan menghasilkan keturunan anak-anak yang tahan panas, bahkan fire-proof. Dan anak-anak tahan panas itu tadi akan melahirkan keturunan yang akan bisa mengeluarkan api dari tangannya. Keren.

nih nantinya mereka bisa seperti ini

Tapi hal itu nggak akan terjadi pada keturunanku nanti, karena kunjunganku ke Semarang ini cuma sekedar ingin mengunjungi kosan mbak Retno, kakakku. Aku juga ingin melihat seberapa besar Undip yang diceritakan temenku, sampai saat ini aku baru melihat pom bensin pribadinya Undip pas Sholat Jum’at kemarin.

Untuk orang yang bisnya keblabasan waktu berangkat kesini kemarin, aku cukup bisa mengendalikan situasi hingga bisa sampai ke kosan kakak, kebanyakan leo bisa. Yang nggak bisa kukendalikan adalah situasi di kosan, kosan cewek. Dimana setiap saat aku harus mengurung diri di kamar biar nggak dikira om-om genit yang suka ngodain tante-tante. Untuk ke kamar mandi saja harus memakai ninja mode, mengintip dulu dari pintu, kalau nggak ada orang barulah mengeluarkan jurus kaki seribu.

Aduduh, panas panas.

4 October 2011

Mahasiswa Menuhankan IP

Filed under: Tulisan Brutal, Ustad Cahyo Al Ichi — Cahyo Adi Nugroho @ 7:00 PM

IP atau bisa juga kita sebut index prestasi merupakan nilai yang kita peroleh di akhir semester kuliah kita. Mahasiswa akan menjadi sangat sibuk mengurusi nilai mereka pada akhir semester. Nilai IP itu bervariasi, dari 1 sampai 4. Karena bentuknya nilai, IP adalah salah satu cara untuk mengukur hasil belajar kita, ya seperti nilai-nilai lain yang pernah kita terima. Nah, celakanya banyak di antara kita yang menganggap IP adalah satu-satunya nilai ukur seorang mahasiswa. Tak heran kita rela melakukan banyak cara demi membuat IP kita bagus, baik itu cara yang baik atau cara yang tidak sehat, haha!. Tapi memang seperti itulah gambaran sebagian besar mahasiswa jaman sekarang, mahasiswa menuhankan IP.

Mari kita mulai dengan pengertian menuhankan, bertuhan. Kita artikan saja secara sederhana, menuhankan itu artinya menganggap begitu penting. Kenyataannya, nilai memang masih menjadi hal yang begitu penting bagi kita. Tak heran bila kita mengerjar nilai dengan cara apapun, termasuk tradisi nyontek. Mungkin ada beberapa alasan mengapa kita melakukan itu, pertama, kita masih terbawa tradisi SMP-SMA dimana saat itu nilai masih begitu penting, atau yang kedua, karena salah satu faktor diterimanya kita di lapangan kerja adalah nilai kuliah kita. Kalau melihat alasan tersebut rasanya memang wajar, tapi coba pikirkan, Apa yang akan kita lakukan untuk merubah bangsa ini menjadi lebih baik bila kita bahkan tidak mampu merubah pola pikir kita bahwa ada hal yang lebih penting dari sekedar mengejar nilai, yaitu ilmu yang kita dapat di perkuliahan dan bagaimana penerapannya di masyarakat?

Rasanya terlalu murah bila usaha kita yang masyaallah, sudah sungguh-sungguh bila hanya dihargai dengan beberapa digit angka di KHS. Seharusnya kita bisa melihat bahwa ini bukan hanya masalah nilai, suatu saat kalian akan sadar bahwa ternyata nilai A, B, C, atau bahkan D sekalipun tidak sepenting yang kalian kira. Jadi belajarlah yang rajin, rubah pola pikir, luruskan niat, jangan percaya kalau nanti nilai-nilai itu akan menolong kita, musrik itu, haha.

NB : Nilai itu memang penting, nanti pasti disertakan saat kita akan melamar kerja, tapi sekali lagi masih ada yg lebih utama, seperti kelakuan, psikologis, dan kemampuan berkomunikasi.

No offense, cuma untuk renungan.

22 September 2011

Menyambut Tahun Kedua (part. 2)

Filed under: 100 Hal Geje di Kampus, Edcom — Cahyo Adi Nugroho @ 7:52 PM

September ke 22 di tahun ini,

Masih seperti malam-malam kemarin, tidak ada PR yang berarti. Satu-satunya yang membuat kuliah lebih menyenangkan adalah menjadikan diriku sendiri mahasiswa yang suka terlambat masuk ke kelas, dan maju secara serampangan saat ada kelas presentasi.
Malam ini aku mungkin akan melewatkan beberapa segmen di sinetron Kupinang Kau dengan Bismillah dan meneruskan apa yang sudah aku mulai pada tulisan Menyambut Tahun Kedua bagian pertama dulu, belum terlalu dulu tapi.

Ini sudah malam jum’at kesekian kalinya di semester ini, besok kelas A libur, dan sudah dapat ditebak bahwa aku akan tertekan bila tidak melakukan apa2. Tulisan spinningku sudah aku post di blog si bos tadi sore, sore yang masih panas bahkan ketika aku sudah berada di ILC. Tidak tahu spinning ya? Haha itu adalah pekerjaan yang aku dapatkan di semester 2 dulu, pekerjaan pertamaku dalam hidup ini. Bayarannya lumayan untuk pekerjaan yang sebenarnya aku lebih arahkan untuk melatih kecepatan dan ketepatan menulisku. Seperti kata ibu, aku harus terus belajar. Aku ingin tumbuh menjadi pria yang pintar dan penulis buku.

Kembali ke topik utama kita sodara2, Menyambut Tahun Kedua MySpace

Tidak ada yang berubah selain perubahan itu sendiri, aku kini mendapati diriku bertambah pintar, cepat, berani, meskipun masih sering tertekan. Semua teman2ku juga seperti itu, seperti sebotol wine, kita bertambah luar biasa seiring waktu berjalan. Meskipun secara menyedihkan sekali kita memilih jalan yang berbeda, kita terus bersinar bahkan saat terpisah, seperti kembang api.

Mengesankan sekali nilai IPku bisa naik dari semester kemarin, di saat aku juga menjalankan 2 UKM di saat yang sama. 1 UKM dan 1 HMJ sebenarnya, cuma untuk membuat itu lebih simple aku menyebutnya 2 UKM. Semester kemarin itu aku sama sekali tidak melakukan apa-apa, kalau kalian ingin tahu, culun sekali, tidak terlihat dari monas.

Mengingat bahwa KRS semester ini belum aku serahkan ke pembimbing akademik kesayangan dan bagian TU, sesuatu sekali nomer induk C0310009 masih tercantum di kertas absen. C03 adalah kode bahwa aku adalah mahasiswa Sastra Inggris, 10 adalah tanda bahwa aku mahasiswa angkatan 2010, yang tahun lalu masih bangga karena menjadi yang termuda, dan tahun ini mulai membangun kembali rasa bangga karena sudah punya adik tingkat. 009 adalah nomer absenku, obvious. Nomer yang saat ini lagi jadi nomer favorit, yang juga aku jadikan jumlah recent post di samping itu.

Bersambung, yang berikutnya nanti tentang EDCOM, SKI, dan yang terbaru, BEM FSSR.

19 September 2011

I (coffee) English Department

Filed under: Edcom — Cahyo Adi Nugroho @ 8:28 PM

Untuk besok, September ke 27,

Tulisan yang tidak akan bergerak turun sampai saat itu tiba,

Hari dimana gathering besar Coffee Bean akan dilaksanakan, kalau tidak ada yang mengganggu akan dilaksanakan di Ruang 307, ruang yang sama saat aku dan teman-teman 2010 dulu melaksanakan malam inagurasi Closer.

Ya Allah lancarkanlah acara kami, beri kami kemudahan, tanamkanlah antusiasme yang cukup untuk semua partisipan, glory glory osmaru 2011,

Cinematic Orchestra for Freshman – Eternal Euphoria by English Department Alliance.

Blank

Filed under: Tulisan Brutal — Cahyo Adi Nugroho @ 3:07 AM

Mengapa batterai lepi justru lebih cepat terisi penuh saat kita mengisi sambil memakainya, hanya itu hal aku pikirkan sekarang, karena hal terakhir yang aku ingat tadi sebelum tidur adalah aku mematikan lepi dan memasang charger. Tapi sampai jam 2 warna lampu indikator batterai masih merah, entah kapan ini akan berubah jadi biru sejak aku menyalakannya saat ini.

Aku bukannya belum tidur, aku manusia, jam segini harusnya aku masih terlelap. Aku terbangun beberapa menit yang lalu, 90% karena nyamuk, dan sisanya alasan yg tidak mungkin aku tulis di sini. Aku tidak memikirkan apa2, sampai tengah malam tadi aku tidak sedikitpun merasa galau. Aku sengaja, galau memang harusnya digunakan sewajarnya, seperti halnya cemburu dan insomnia.

Aku jarang sekali merasakan aroma jam segini, karena memang aku selalu bisa tidur nyenyak sebelum tengah malam. Itu merupakan satu anugrah yang luar biasa dari Tuhan yg aku tidak bisa berhenti mengucap terima kasih. Banyak sekali orang yang menderita insomnia, lebih dari 80% alasannya disebabkan faktor dari dalam dirinya sendiri, banyaknya hal yang dipikirkan, salah satunya. Aku tidak heran mengapa Batman malah ugal-ugalan saat malam, dia secara konstan selalu memikirkan Joker yang sudah ditakdirkan akan membuatnya sebal selamanya.

Yang mau aku lakukan sekarang adalah memikirkan alasan kenapa aku bisa terbangun. Dan juga menuliskan kalimat untuk melanjutkan tulisan ini, sebenarnya tadi banyak muncul di kepalaku, tapi sering hilang lagi karena ini aku tidak tahan untuk membuka FB, dan menemukan batman2 lain yang masih belum juga tidur. Dengan alasan yang berbeda2 tentunya, dari status mereka yang tertulis baru beberapa menit dibuat.

Salah satu batman berkata (menulis komentar, red) bahwa dia sedang good mood, yang alasannya masih terbangun sampai sekarang adalah mengerjakan tugas. Lot lot lot of laugh! Terlalu banyak mengerjakan tugas itu tidak baik untuk kesehatan, terutama sampai jam segini. Satu lagi batman berkata dia lagi galau, ya ampun galau, sekali lagi, jam segini galau sodara2.

Barangkali kecepatanku dalam menyusun kata masih terlalu lama, ini sudah hampir jam 3. Aku sekarang sedang mempersilahkan rasa kantuk datang kembali ke tubuhku. Aku masih perlu tidur, menurutku, karena hari ini sudah senin. Senin itu kuliah, menyebalkan. Bukan hari senin yg menyebalkan, tapi kuliahnya. Karena kalau awal minggu baru dimulai di hari selasa, kita pasti membenci hari selasa.

Ya Tuhan aku harap ini masih Minggu, pikiranku masih blank.

pic source: here

18 September 2011

Selayang Pandang

Filed under: Edcom — Cahyo Adi Nugroho @ 9:32 PM

Yo ! Edcom !

Edcom is one of community belongs to English Department. Every department has a community, and English Department Community belongs to us. Nothing too special, it’s just like another community, it just a little bit more organized. Now it’s time to let you know a little bit about this Edcom thing.

Don’t you ever for a second forget about the history, that’s what they said. The history of Edcom itself began in 2001. Edcom was born in that time. It’s hard to imagine how Edcom look like when it’s first formed. Edcom grew better and better as the time passed by. Edcom will always be regenerated by great crews, year by year.

Every community formed for a purpose. Edcom formed to help English department’s student do what they want to do. Edcom is kind of place for them to deliver their aspirations. There are so many divisions in Edcom, we can just choose one of them. You can be a treasurer if your favorite thing is collecting money. If you like writing, editing, or just collecting photo, just be a press division crew. You can join student affair division if you are someone with over-high social life. And so-on, you can join another division as well. Different people do different things, right?

There are many things happened during this years. I just can forget about Buber (breaking-fast) with orphans, that was so pleasuring. And then, if we can take back time, that was another educating agenda, we visited Solopos. Now we are still preparing for sovvet, a debate contest. That all agenda were just an intermezzo during our routine activities. I can feel very happy with just imagine that next time we will do another pleasuring activities again.

Okay, see you later, thanks in advance.

nb : sorry for my bad english,

Selamat Hari Minggu, Semuanya

Filed under: Ustad Cahyo Al Ichi — Cahyo Adi Nugroho @ 6:39 AM

Alhamdulillah, aku bersyukur sekali untuk:

  1. Kesehatanku
  2. Mata, hidung, dan telingaku
  3. Keseimbanganku sehingga aku jalanku bisa lurus
  4. Kesehatanku (lagi) dan bisa berlari sejauh 5 mil tanpa masalah, Masyaallah
  5. Untuk kemampuanku memberi nasehat yang baik bahkan kepada non-muslim
  6. Orang tuaku dengan semua kebaikan dan keluar-biasaan mereka
  7. Kakak dan adikku yang tadi masih bisa shalat Subuh jamaah
  8. Jari-jariku yang masih bisa untuk merasakan luka
  9. Untuk makanan di meja makan dan rumah tempat berlindung
  10. Untuk air bersih yang terasa begitu segar!
  11. Untuk hari minggu yang cerah dengan semua udara yang bisa bebas ku hirup
  12. Perlindungan yang kau berikan sehingga aku bisa melawan semua rasa takut dan mengatasinya dalam 60 detik
  13. Untuk semuanya, Alhamdulillah for everything

Sekali lagi terima kasih ya Allah, dan hamba mohon mohon mohon maafkanlah kesalahan  dan kelalaian hamba.

16 September 2011

Misteri Hantu di Toilet Sastra

Filed under: 100 Hal Geje di Kampus — Cahyo Adi Nugroho @ 7:57 PM

Selasa, September ke-15 di tahun 2011

Masih berada di mushola FSSR setelah shalat magrib berjamaah, menyebalkan setelah ini masih harus mengangkut beberapa gallon ke sanggar Tesa, tempat dimana halal bihalal UKM dan pemilihan lurah UKM dilakukan pada saat yg sama, di bawah naungan bulan yg sama.

Aku masih menantikan teman-teman selesai doa, berdiri di pagar pembatas antara mushola lantai 2, yg kalau kita lompati dan pecahkan kacanya bisa buat jalan pintas ke lantai 3, penting untuk teman-teman sastra inggris yg tidak ingin terlambat kelas CCU (Cross Cultural Understanding) pak Mugijatna, yang isi kuliahnya itu selalu perbandingan budaya Kita dengan Amerika, yo jelas bedoo lah, obvious, jam kita itu jam karet. Teringat waktu aku terlambat pada hari pertama dan langsung dijadikan contoh budaya Indonesia, ingatlah pak different people do different thing.

Berada di lantai 2 mushola FSSR saat malam berhasil membuat aku agak merinding, pasalnya dengan keadaan begini berarti aku berada tepat sejajar dengan toilet pojok lantai 3 yang sangat angker, yang menjadi semakin angker dengan lampu orange’nya saat aku memandanginya malam itu.

Legenda kota pernah menceritakan cerita horror mengenai toilet itu, konon cerita itu sudah tersebar 3000 tahun yang lalu dan menjadi populer di kalangan mahasiswa sastra inggris, entah itu kejadian nyata atau cuma HOAX, aku akan menceritakannya di sini. Ini tidak seperti aku membohongi kalian, aku menceritakan yang aku dengar, dan mungkin, kalian akan menceritakan hal ini pada orang lain di lain waktu.


itu gambar yang aku ambil dari google, bukan kampusku, ayolah.

Suatu hari ada seorang lelaki yang sedang mengaca di kaca yang terdapat di toilet tersebut, tidak tahu dari mana asalnya, ada sesosok ibu2 yang lewat di belakangnya, terlihat jelas di cermin tersebut. Jangan ketawa, aku tidak melucu, itu yang pernah mereka katakan.

Dan lagi, yang sering aku alami waktu awal2 semester satu dulu. Pintu kamar mandi itu memang sudah agak bahlul. Ketika kita menutupnya dari dalam, pintu itu sering macet dan alhasil aku terjebak di dalamnya, perlu usaha yg luar biasa untuk membukanya lagi. Bukan cuma aku, teman-teman juga sering curhat masalah itu. Dan kalau dipikir lagi, bila aku yang sudah tahu cerita ini dan secara keterlaluan terjebak lagi, cerita ini akan menjadi lebih seram seratus kali lipat, karena posisi cermin tepat berada di samping pintu.

ini ada tambahan kata-kata dari mas pondra, kakak kelasku, lumayan nambah-nambah jumlah kalimat,

kalo gak salah, dulu pernah ada yg bunuh diri di toilet itu, makanya sampai sekarang angker tuh toilet..

Hati-hati teman-teman, toilet itu akan terus menghantui kalian, hanya kalau kalian percaya kalau cerita itu bukan HOAX.

Legenda Wongasu (Part. II)

Filed under: Edcom — Cahyo Adi Nugroho @ 6:58 PM

SEPANJANG rel, tempat ia selalu membawa karung berisi anjing, anak-anak berteriak mengejeknya.

“Wongasu! Wongasu!”

Mula-mula Sukab tidak peduli, tapi kemudian perempuan yang disebut istrinya itu pun berkata kepadanya.

“Sukab! Mereka menyebut kita Wongasu!”

“Kenapa?”

“Katanya wajah kita mirip anjing.”

Mereka begitu miskin, sehingga tidak punya cermin. Jadi mereka hanya bisa saling memeriksa.

Betul juga. Mereka merasa wajah mereka sekarang mirip anjing.

“Anak-anak tidak lagi bermain dengan anak-anak tetangga, karena mereka semua mengejeknya sebagai Wongasu.”
Ia perhatikan, anak-anak mereka juga sudah mirip anjing. Perasaan Sukab remuk redam.

“Aduhai anak-anakku, kenapa mereka jadi begitu?” Sukab merenung sendirian. Kalaulah ini semacam karmapala karena perbuatannya sebagai pemburu anjing, mengapa hal semacam itu tidak menimpa para pemakan anjing saja? Bukankah perburuan anjing itu bisa berlangsung, hanya karena ada juga warung-warung penjual masakan anjing yang selalu penuh dengan pengunjung? Kenapa hanya dirinya yang menerima karmapala?

Orang-orang itu memakan anjing karena punya uang, begitu pikiran Sukab yang sederhana, sedangkan ia dan keluar-ganya memakan hanya kepalanya saja karena tidak punya uang. Sejumlah uang yang diterimanya dari para pemilik warung, yang mestinya cukup untuk membeli ikan asin dan nasi, biasa habis di lingkaran judi, tempat dahulu ia bertemu dengan perempuan itu-yang telanjur dicintainya setengah mati. Bukan berarti Sukab seorang penjudi, tapi ia juga punya impian untuk mengubah nasib secepat-cepatnya.

Namun kini mereka semua menjadi Wongasu.

“Tidak ada yang bisa kita lakukan selain bertahan hidup,” kata Sukab.

Perempuan itu menangis. Wajahnya yang cantik lama-lama juga menjadi mirip anjing. Meski sudah tidak melacur, tentu saja ia tetap ingin kelihatan cantik. Begitu juga Sukab. Anak-anak mereka terkucil dan setiap kali berkeliaran menjadi bahan ejekan.

Sukab tetap menjalankan pekerjaannya, dan pekerjaannya memang menjadi semakin mudah. Bukan karena anjing-anjing itu melihat kepala Sukab semakin mirip dengan mereka, melainkan karena penciuman mereka yang tajam mencium bau tubuh Sukab yang rupa-rupanya sudah semakin berbau anjing. Mereka datang seperti menyerahkan diri kepada Sukab yang telah sempurna sebagai Wongasu. Kadang-kadang Sukab cukup membuka karung dan anjing itu memasuki karung itu dengan sukarela, seperti upacara pengorbanan diri, meski Sukab tetap akan mengakhiri hidup mereka, tentu saja dengan cara yang tidak usah diceritakan di sini.

Ia akan datang dari ujung rel memanggul karung berisi anjing, melemparkannya ke hadapan pemilik warung berdingklik di tepi rel sehingga menimbulkan bunyi berdebum, dan segera pergi lagi setelah menerima sejumlah uang.

Di belakangnya anak-anak kecil berteriak.

“Wongasu! Wongasu!”

Pada suatu hari, ketika ia kembali ke gubugnya di pinggir kali, seseorang berteriak kepadanya.
“Wongasu! Mereka mengangkut keluargamu!”

Rumah gubugnya porak poranda. Seorang tua berkata kepadanya bahwa penduduk mendatangkan petugas yang membawa kerangkeng beroda. Perempuan dan anak-anaknya ditangkap. Mereka dibawa pergi.

“Ke mana?”

“Entahlah, kamu tanyakan sendiri saja sana!”

Waktu Sukab berjalan di sepanjang tepi kali, ia mendengar mereka berbisik-bisik dari dalam gubug-gubug kardus.

“Awas! Wongasu lewat! Wongasu lewat!”

“Heran! Kenapa kepalanya bisa berubah menjadi kepala anjing?”

“Itulah karmapala seorang pembunuh anjing.”

“Tapi kita semua makan anjing, siapa yang mampu beli daging sapi dalam masa sekarang ini? Bukankah justru….”

“Husssss…..”

Di kantor polisi terdekat Sukab bertanya, apakah mereka tahu akan adanya pengerangkengan tiada semena-mena sebuah keluarga di tepi kali.

“Oh, itu. Bukan polisi yang mengangkut, tapi petugas tibum.”

“Apa mereka melanggar ketertiban umum?”

Polisi itu kemudian bercerita, bagaimana salah seorang anak Sukab tidak tahan lagi karena selalu dilempari batu, sehingga mengejar pelempar batu dan menggigitnya. Bapak anak yang digigit sampai berdarah-darah itu tidak bisa menerima, lantas mengerahkan pemukim pinggir kali untuk mengepung gubug mereka. Kejadian itu dilaporkan kepada petugas tibum yang tanpa bertanya ini itu segera mengangkut mereka sambil menggebukinya.
Diceritakan oleh polisi itu bagaimana perempuan dan kelima anaknya itu berhasil dimasukkan ke dalam kerangkeng, hanya setelah memberi perlawanan yang luar biasa.

“Mereka menyalak-nyalak dan berkaing-kaing seperti anjing,” kata polisi itu, seolah-olah tidak peduli bahwa wajah Sukab juga seperti anjing.

“Hati-hati lewat sana,” katanya lagi, “mereka juga bisa menangkap saudara.”

“Kenapa Bapak tidak mencegah mereka, perlakuan itu kan tidak manusiawi?”

Polisi itu malah membentak.

“Apa? Tidak manusiawi? Apa saudara pikir makhluk seperti itu namanya manusia?”

“Mereka juga manusia, seperti Bapak!”

“Tidak! Saya tidak sudi disamakan! Mereka itu lain! Saudara juga lain! Sebetulnya saya tidak bisa menyebut Anda sebagai Saudara. Huh! Saudara! Saudara dari mana? Lagi pula, Anda bisa bayar berapa?”

Sukab berlalu. Nalurinya yang entah datang dari mana serasa ingin menerkam dan merobek-robek polisi itu, tapi hati dan otaknya masih manusia. Ia berjalan di kaki lima tak tahu ke mana harus mencari keluarganya.
Setelah malam tiba, ia kembali ke pinggir kali dengan tangan hampa. Ia berjongkok di bekas gubugnya yang hancur, menangis, tapi suara yang keluar adalah lolongan anjing.

Hal ini membuat orang-orang di pinggir kali lagi-lagi gelisah. Lolongan di bawah cahaya bulan itu terasa mengerikan. Ketakutannya membuat mereka mendatangi Sukab yang masih melolong ke arah rembulan dengan memilukan. Mereka membawa segala macam senjata tajam.

***
“MEREKA membantai Sukab,” ujar tukang cerita itu, dan para pendengar menahan nafas.

“Dibantai bagaimana?”

“Ya dibantai, kalian pikir bagaimana caranya kalian membantai anjing?”

“Terus?”

“Mereka pulang membawa daging ke gubug masing-masing.”

“Terus?”

“Terus! Terus! Kalian pikir bagaimana caranya mendapat gizi dalam krisis ekonomi berkepanjangan?”

Ada yang menahan muntah, tapi masih penasaran dengan akhir ceritanya.

“Yang bener aje, masa’ Sukab dimakan?”

Tukang cerita itu tersenyum.

“Lho, itu tidak penting.”

Orang-orang yang mau pergi karena mengira cerita berakhir, berbalik lagi.

“Apa yang penting?”

“Esoknya, ketika matahari terbit, dan orang-orang bangun kesiangan karena makan terlalu kenyang dan mabuk-mabukan, terjadi suatu peristiwa di luar dugaan.”

“Apa yang terjadi?”

“Ketika terbangun mereka semua terkejut ketika saling memandang, mereka bangkit dan menyalak-nyalak, lari kian kemari sambil berkaing-kaing seperti anjing!”

“Haaaa?”

“Kepala mereka telah berubah menjadi kepala anjing!”

“Aaahhh!!!”

“Mereka semua telah berubah menjadi Wongasu!!”

Mulut tukang cerita membunyikan gamelan bertalu-talu sebagai tanda cerita berakhir, dan mulut para asistennya membunyikan suara lolongan anjing yang terasa begitu getir sebagai tangis perpisahan yang menyedihkan. Para penonton terlongong dengan lidah terjulur.

Di langit masih terlihat rembulan yang sama, dengan cahaya kebiru-biruan menyepuh daun yang masih juga selalu memesona.

Pertunjukan akhirnya benar-benar selesai, tukang cerita itu memasukkan kembali wayangnya ke dalam kotak. Para penonton yang semuanya berkepala anjing itu pulang ke rumah, dengan pengertian yang lebih baik tentang asal-usul mereka sendiri. Guk!

*selesai*

nb : pesan dari Seno Gumira Ajidarma sebagai pengarang, cintailah semua makhluk Tuhan, termasuk anjing.

« Newer PostsOlder Posts »

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: