Tempat Parkir Kampus

4 October 2011

Mahasiswa Menuhankan IP

Filed under: Tulisan Brutal, Ustad Cahyo Al Ichi — Cahyo Adi Nugroho @ 7:00 PM

IP atau bisa juga kita sebut index prestasi merupakan nilai yang kita peroleh di akhir semester kuliah kita. Mahasiswa akan menjadi sangat sibuk mengurusi nilai mereka pada akhir semester. Nilai IP itu bervariasi, dari 1 sampai 4. Karena bentuknya nilai, IP adalah salah satu cara untuk mengukur hasil belajar kita, ya seperti nilai-nilai lain yang pernah kita terima. Nah, celakanya banyak di antara kita yang menganggap IP adalah satu-satunya nilai ukur seorang mahasiswa. Tak heran kita rela melakukan banyak cara demi membuat IP kita bagus, baik itu cara yang baik atau cara yang tidak sehat, haha!. Tapi memang seperti itulah gambaran sebagian besar mahasiswa jaman sekarang, mahasiswa menuhankan IP.

Mari kita mulai dengan pengertian menuhankan, bertuhan. Kita artikan saja secara sederhana, menuhankan itu artinya menganggap begitu penting. Kenyataannya, nilai memang masih menjadi hal yang begitu penting bagi kita. Tak heran bila kita mengerjar nilai dengan cara apapun, termasuk tradisi nyontek. Mungkin ada beberapa alasan mengapa kita melakukan itu, pertama, kita masih terbawa tradisi SMP-SMA dimana saat itu nilai masih begitu penting, atau yang kedua, karena salah satu faktor diterimanya kita di lapangan kerja adalah nilai kuliah kita. Kalau melihat alasan tersebut rasanya memang wajar, tapi coba pikirkan, Apa yang akan kita lakukan untuk merubah bangsa ini menjadi lebih baik bila kita bahkan tidak mampu merubah pola pikir kita bahwa ada hal yang lebih penting dari sekedar mengejar nilai, yaitu ilmu yang kita dapat di perkuliahan dan bagaimana penerapannya di masyarakat?

Rasanya terlalu murah bila usaha kita yang masyaallah, sudah sungguh-sungguh bila hanya dihargai dengan beberapa digit angka di KHS. Seharusnya kita bisa melihat bahwa ini bukan hanya masalah nilai, suatu saat kalian akan sadar bahwa ternyata nilai A, B, C, atau bahkan D sekalipun tidak sepenting yang kalian kira. Jadi belajarlah yang rajin, rubah pola pikir, luruskan niat, jangan percaya kalau nanti nilai-nilai itu akan menolong kita, musrik itu, haha.

NB : Nilai itu memang penting, nanti pasti disertakan saat kita akan melamar kerja, tapi sekali lagi masih ada yg lebih utama, seperti kelakuan, psikologis, dan kemampuan berkomunikasi.

No offense, cuma untuk renungan.

Advertisements

18 September 2011

Selamat Hari Minggu, Semuanya

Filed under: Ustad Cahyo Al Ichi — Cahyo Adi Nugroho @ 6:39 AM

Alhamdulillah, aku bersyukur sekali untuk:

  1. Kesehatanku
  2. Mata, hidung, dan telingaku
  3. Keseimbanganku sehingga aku jalanku bisa lurus
  4. Kesehatanku (lagi) dan bisa berlari sejauh 5 mil tanpa masalah, Masyaallah
  5. Untuk kemampuanku memberi nasehat yang baik bahkan kepada non-muslim
  6. Orang tuaku dengan semua kebaikan dan keluar-biasaan mereka
  7. Kakak dan adikku yang tadi masih bisa shalat Subuh jamaah
  8. Jari-jariku yang masih bisa untuk merasakan luka
  9. Untuk makanan di meja makan dan rumah tempat berlindung
  10. Untuk air bersih yang terasa begitu segar!
  11. Untuk hari minggu yang cerah dengan semua udara yang bisa bebas ku hirup
  12. Perlindungan yang kau berikan sehingga aku bisa melawan semua rasa takut dan mengatasinya dalam 60 detik
  13. Untuk semuanya, Alhamdulillah for everything

Sekali lagi terima kasih ya Allah, dan hamba mohon mohon mohon maafkanlah kesalahan  dan kelalaian hamba.

4 September 2011

Idul Fitri Untuk Semua Orang !

Filed under: Ustad Cahyo Al Ichi — Cahyo Adi Nugroho @ 7:40 AM

Sebelum aroma Idul Fitri memudar dan menghilang,

Kami selaku pengurus dari Parkiran Kampus (itu nama blog ini, saya bukan tukang parkir), juga Uztad kita Cahyo Al Ichi, mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri, Minal Aidzin Wal Faidzin. Mohon maaf lahir dan batin, kalau ada tulisan yang kurang berkenan, disturbing picture, dll. Semoga setelah Romadhon kali ini, tulisan saya menjadi semakin baik, intensitas menulis bertambah, dan orang2 yang saya harapkan membaca tulisan ini secara kecelakaan menemukannya di google, Aamiin.

Mari berdoa bersama-sama agar kita masih dipertemukan dengan Romadhon yang akan datang, dan semoga Idul Fitri yang akan datang saya tidak telat untuk menuliskan ucapan selamat, Idul Fitri for everybody!

*pray for next ramadhan

20 August 2011

Kultum Penggalauan

Filed under: Ustad Cahyo Al Ichi — Cahyo Adi Nugroho @ 10:27 PM

Assalamualaikum Wr Wb

Kali ini saya sebagai ustad yang sedang galau mau menyampaikan sesuatu, karena orang-orang dulu bilang, kendalikan rasa galaumu sebelum dia mengendalikanmu.

Susah lho teman-teman menang melawan rasa galau, kalau orang mulai galau, dia mungkin akan membuat ribuan status galau hingga berandanya sempal karena statusnya kepanjangan.

Contoh status galau :

Saya lagi galau, status saya cinta-cintaan

Atau yg ini:

Galau sama galau berkelahi, saya mati di tengah2

Dan masih banyak status2 gaje lainnya yang ngerusak mata,

Paling tidak sekarang saya tdak seperti itu, memang penting ya buat orang lain tahu kalau kita sedang galau?

Penyebab paling pasaran galau adalah cinta, jatuh cinta atau putus cinta tidak ada bedanya, bila sedang galau ya galau.

Sodara2ku yg berbahagia, ingatlah selalu, kalian boleh mencintai apa saja sesuai kehendak kalian, tapi seberapapun besarnya rasa cinta itu, kelak kalian juga akan berpisah dengannya.

Udah ya, saya mau ke mesjid dulu, tidur disana, biasa anak muda. Kalau ada salah kata maklumi saja karena saya masih makan nasi, kalau makanan saya sajen dan menyan mungkin saya ga pernah salah,

<salah gambar

Wasalamualaikum Wr Wb

Memberi dan Menerima

Filed under: Ustad Cahyo Al Ichi — Cahyo Adi Nugroho @ 11:17 AM

gambar dari gugle ini,
Kalau teman-teman pernah menonton film Laskar Pelangi, pasti kenal yang namanya Pak Harfan, kepala sekolah innocent dan terlalu baik untuk berada di kehidupan nyata. Beliau pernah mengatakan seperti ini

Hidup ini bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya, tapi untuk memberi sebanyak-banyaknya

Kata-kata yang sangat keren, tapi sebenarnya ada kesalahan mendasar dalam kalimat tersebut. Faktanya, semakin banyak kita memberi semakin banyak pula yang kita terima. Meskipun sering tidak kita sadari, menerima sesuatu adalah hal yang terus terjadi pada kita, setiap hari. Meski bukan dalam bentuk yang sama, mengingat sifat matematis tidak pernah bekerja dengan benar di dunia nyata, dimana ruas kiri tidak harus sama dengan ruas kanan.

Tidak ada yang tidak di balas Allah, kebaikan sebesar apapun, bahkan sebesar zarrah. Zarrah itu kalau waktu aku SD pak guru menjelaskan kalau artinya biji sawi, tapi belakangan aku dengar di kotbah jum’at bahwa kecilnya zarrah bisa diumpamakan seperti lubang kecil di atap rumah, yang mengijinkan cahaya matahari masuk ke rumah, dan kemudian dari cahaya itu akan terlihat debu-debu kecil yang beterbangan, nah zarrah itu seperti debu-debu itu. Hmm lumayan kecil, menurutku.

Tidak ada yang bisa mengalahkan perasaan damai yang kita dapat ketika bisa dengan ikhlas memberika sesuatu pada orang lain, terlebih yang membutuhkan. Lihatlah senyum di wajah orang itu, betapa bahagianya.

Nah jadi bangun tidurlah dengan niat untuk memberi, kalau nanti di kampus ketemu pengemis yang minta kepada kita, beri saja seikhlas kita, tanpa memikirkan bahwa pengemis itu malas atau bahwa mengemis itu dilarang dalam islam. Ingatlah bahwa Indonesia tidak harus menjadi seperti sekarang ini bila semua orang bisa saling mengerti dan membantu satu sama lain.

Sedikit kultum dari Ust. Cahyo Al Ichi yang baru bangun pagi ini karena semalam bergadang maen PES dengan teman-teman. MySpace

15 August 2011

Selamat Menjalankan Ibadah Puasa

Filed under: Ustad Cahyo Al Ichi — Cahyo Adi Nugroho @ 11:41 PM


Getaran-getaran sudah mulai terasa, selamat (benar-benar) menjalankan ibadah puasa, kekeke..

Hari pertama masuk kampus di bulan puasa, maksudku untuk menerima kuliah. sebenarnya beberapa hari sebelumnya banyak agenda ramadhan SKI yang mengharuskan aku untuk masuk kampus, tapi kalau dibandingkan dengan hari ini kaya ember dan serutan kayu.

Puasa di kampus memang berpotensi mengurangi pahala sampai level terendah. Ketidaknyamanan saat mengikuti pelajaran membuat aku gampang mengeluh, sudah dosa. Jengkel pada orang-orang yang sok akrab, dosa lagi. Bergurau berlebihan dengan teman, dan masyaallah, sampai ejek-ejekan (biasa anak muda), dosa lagi. Belum lagi panasnya Solo yang bikin emosi, berantakannya sekre SKI juga, sinyal hotspot yang odong juga. Semuanya tampak tidak waras karena kita juga menahan lapar. Lapar itu intinya, aku tidak bisa berpikir jernih saat lapar.

Bahkan seorang akhi seperti Salman juga bilang kalau dia juga merasa sangat lemas hari ini, yah meskipun masih tergolong akhi2 labil tapi biasanya omongan salman sering aku jadikan referensi.

Rasa lapar dan panas, suasana-suasana dan subyek-sebyek yang menyebalkan. Bakal menjadi ujian sesungguhnya di bulan puasa ini, dirumah memang “aman” tapi di luar lebih seru.

Lagipula aku belum mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa sampai saat ini di postingan-postingan sebelumnya.

6 June 2011

Sayap Sayap Lalat

Filed under: Ustad Cahyo Al Ichi — Cahyo Adi Nugroho @ 6:57 AM

Tadi malam waktu Budi lagi belajar buat tes semesteranMySpace…..

MySpace Aku datang ke kamarnya dng membawa es teh….. seteko-tekonya.

Waktu itu malam cukup gerah, aku minum es teh sambil Online MySpace, dan Budi berjalan menuju teko teh.

Budi meracau,”mas, ada lalernya”.MySpace

Aku langsung menuju teko teh dan memastikan apa itu laler asli apa alien berukuran mikro.

Dan ternyata itu benar-benar laler renang2 di teko es teh, langsung saja aku tenggelem-tenggelemin tu laler. Bukannya aku marah sama laler, aku rasa tidak etis menantang laler berkelahi. Budi kebingungan tapi aku tahu apa yang aku lakukan. Maksudku, nenggelemin laler benar-benar ada dasarnya, dulu aku pernah menyampaikan kultum tentang hal ini di ramadhan tahun lalu, nanti aku ceritakan bagaimana ramadhan di desaku.

Baginda Rasulullah bersabda,

“Apabila seekor lalat masuk ke dalam minuman salah seorang kalian, maka celupkanlah ia, kemudian angkat dan buanglah lalatnya sebab pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya ada obatnya (HR. Bukhari, Ibn Majah, dan Ahmad)

Dalam riwayat lain,

Dalam riwayat lain: “Sungguh pada salah satu sayap lalat ada racun dan pada sayap lainnya obat, maka apabila ia mengenai makananmu maka perhatikanlah lalat itu ketika hinggap di makananmu, sebab ia mendahulukan racunnya dan mengakhirkan obatnya” (HR. Ahmad, Ibn Majah)

Itu sangat masuk akal, laler bisa hidup walau tiap hari kongkow-kongkow di tempat jorok, Allah kan Maha Adil. Jadi kalau minuman kita dipakai buat renang laler, tinggal kita tenggelemin saja lalernya.

Hidup ini santai saja, tidak usah terlalu teknisMySpace

9 May 2011

Forgivable

Filed under: Lumayan Serius, Ustad Cahyo Al Ichi — Cahyo Adi Nugroho @ 10:09 PM

Memaafkan adalah hal yg sangat sulit dilakukan, kecuali oleh orang-orang yg punya bakat bisa melupakan kesalahan orang lain dengan mudah. Tapi seperti biasa, kecuali itu jumlahnya tak pernah banyak. Pernah aku berpikir mengapa bila kita menyayangi orang lain, sebanyak apapun orang itu melukai perasaan kita, kita masih bisa sabar dan memaafkan kelakuannya. Itu akan membuat dia diremahkan oleh orang yang dia cintai, orang itu akan menjadi sombong dan mengulangi kesalahannya berulang-ulang kali. Tapi kalau seperti itu endingnya pasti bisa ditebak, orang yang suka menyakiti tadi suatu hari akan sadar setelah yang dia sakiti merasa jenuh dan kehilangan perasaannya, dan dia akan berulang kali meminta maaf melalui cara apapun tapi terlambat. Karena saat orang disakiti, dia belajar untuk membenci. Tunggu dulu, kalian tidak berpikir bahwa itu terjadi padaku kan? Aku selalu benci terbawa suasana saat membuat tulisan.

Begini, aku akan berikan sedikit gambaran, aku punya mading di kamarku (yg biasanya ak temple gambar2 kartunku), yang kalau aku sedang marah aku tancapkan paku ke mading itu. Dan bila kemarahanku mereda aku cabut paku itu. Ak melakukannya dengan sukses ( mencabut paku), tapi ak melihat pada mading itu, itu tak akan sama lagi seperti sebelumnya, kalian tahu apa yg berbeda? Benar, bekas tancapan paku. Cuma itu satu2nya hal yang beda, gambar2 kartun di mading itu semua masih sama. Lalu apakah yang penting? What’s the point?. Dengar, kita asumsikan mading itu adalah hati orang lain, dan paku itu adalah kelakuan jahat kita. Kita mungkin bisa meminta maaf berulang kali (sekali lagi, dngan cara apapun). Selesaikah? Belum, masih ada hal yg membekas di hati orang yg kita sakiti. Pasti! Dan semuanya tidak akan sama lagi.

Sebenarnya aku bohong mengenai tulisan di atas, memaafkan tidak mungkin sesulit itu, itu cuma butuh sekian persen dari seluruh perasaan yg kita punya. Mengapa begitu sulit bagi kita untuk saling memaafkan.

Nb: Sebuah tulisan yg dibuat dengan sedikit perasaan yg terbawa.

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: