Tempat Parkir Kampus

31 December 2011

@sudjiwotedjo Bicara Banyak Hal Keren Hari Ini

Filed under: Lumayan Serius, Pengaruh TV dan Media — Cahyo Adi Nugroho @ 12:03 AM

Hari ini, jum’at terakhir di taun 2011, Mbah Sudjiwo Tedjo bicara banyak hal di twitter, ini sebagian twitnya saya abadikan:

@sudjiwotedjo

Makanku dikit cuuuuk…itupun harus digubrak2 ma Bu Dalang.Klo gak ya lupa makan.Tp kalau rokok ma kopi waah gak bs pisah

(more…)

30 December 2011

Filed under: Lumayan Serius — Cahyo Adi Nugroho @ 8:51 AM

“dubito ergo cogito, cogito ergo sum.”

(aku ragu maka aku berpikir, aku berpikir maka aku ada)

                                      -René Descartes (1596-1650)

2 December 2011

Bagaimana Aku dan Mini Melawan Dunia

Filed under: Cerpen, Lumayan Serius — Cahyo Adi Nugroho @ 11:18 PM

September ke 22 di tahun ini,

Masih seperti malam-malam kemarin, aku galau di tempat tidur karena tidak ada PR yang berarti. Satu-satunya yang membuat kuliahku lebih menyenangkan selama ini adalah menjadikan diriku sendiri mahasiswa yang selalu datang terlambat, maju serampangan saat presentasi, dan yang paling seru, aktif dalam organisasi kampus.

Perkenalkan, namaku Cahyo Adi Nugroho, sebut saja Cahyo, si tokoh utama, mahasiswa semester 3 jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Seni Rupa (FSSR), di salah satu kampus ternyaman sedunia, Universitas Sebelas Maret yang disingkat UNS.

Fakultas sastra, dengan bahasa apapun, adalah jurusan dengan tekanan tertinggi setelah jurusan Seni Rupa. Permasalahan mendasar yang sering dialami oleh seniman, atau juga penulis, adalah mood. Padahal sumber daya mood yang bisa aku temui di fakultasku benar-benar terbatas. Padahal sumber daya mood yang aku temui di kampusku sangat terbatas. Maka dari itu aku ikut kegiatan organisasi fakultas (UKM). Adapun UKM yang tidak beruntung karena aku datangi itu adalah Edcom, SKI, dan yang terbaru, BEM fakultas. Cara yang kulakukan berhasil, bagaimana secara luar biasa di UKM aku mendapatkan banyak teman yang menyenangkan, dan secara teknis itu akan menambah sumber daya mood.

Selalu ada konsekuensi, tidak mungkin ada Yin tanpa Yang. Dengan banyaknya agenda yang aku punya sekarang, aku harus pintar membagi waktu. Tugas harus diselesaikan di waktu luang ketika tidak ada agenda, tugas makalah harus menjadi sesuatu yang bisa dikerjakan di sekre atau mushola. Disitulah peran netbookku, tokoh utama kedua di cerpen ini, HP mini 210 yang sudah kubeli sejak awal masuk kuliah. Aku sengaja memilih netbook karena laptop itu terlalu berat. Aku kan harus terus bergerak, mengejar mimpi, ya aku harus mengurangi beban yang kubawa. Sampai jam 11 malam ini aku belum sadar kalau beberapa hari mendatang akan terjadi banyak hal yang tidak terduga.

***

Pagi ini aku berjalan perlahan menuju ruang kelas, mengingat kembali bagaimana saat pertama kali aku berjalan dari parkiran menuju ruang kelas, melewati koridor-koridor gedung I FSSR. Dulu aku mungkin punya banyak teman untuk menemani kemanapun pergi saat berada di kampus, bergerombol menuju ruang kelas. Itu karena dulu kita masih sama-sama culun dan belum tau seluk-beluk tempat ini, belum tau juga cerita kalau di kamar mandi pojok di lantai 3 pernah ada hantu ibu-ibu. Kalau sekarang mah ibaratnya kita mau jalan mundur sambil merem pun juga ga akan nyasar

Tapi kini agak beda, tidak bisa lagi dirasakan kesan rasa bangga telah menjadi mahasiswa. Semua terasa seperti biasa, seperti waktu kita berjalan di halaman SD kita dan melihat burung-burung  gereja terbang saat kita mendekat, semacam itu.

Aku berhenti sejenak ketika mataku menangkap sebuah pamphlet yang cukup menarik, informasi mengenai lomba karya tulis yang diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian, dengan tema pertanian tentunya. Aku kemudian tertarik, dan ketika aku sudah tertarik akan sesuatu, susah untuk melepaskannya. Aku lantas mengajak alah satu temanku, sebut saja Mulad. Mulad yang aku iming-imingi dengan pengalaman dan sertifikat yang akan kita dapat, langsung menyetejuinya.

***

Memang sudah banyak hal yang kulalui bersama miniku sampai semester ke 3 ini. Aku akan menceritakan beberapa hal yang terjadi di minggu awal semester ini. Lomba karya tulis yang kami daftar kemarin memang benar-benar di luar ranah kami. Tapi kami yakin, dengan motivasi ingin mencari pengalaman dan sertifikat. Lagipula ada HP mini yang sangat sangat bisa dibawa ke mana-mana untuk hotspotan mencari bahan makalah. Itulah alasan pertama. Mudah dibawa ke mana-mana.

Selalu saja ada pihak yang mengganggu rencana kita, dan membuat hidup lebih seru. Dengan deadline pengumpulan makalah yang tinggal 3 hari lagi, Edcom, organisasi jurusan yang aku ikuti, memberikan amanah untuk membuat perijinan kegiatan ospek.

“Cahyo, kamu tolong urus bagian perijinan ya, makasih.” Komando dari Inti, calon Sekertaris Edcom.

Aku tidak suka nada bicaranya. Tapi sebagai mahasiswa penuh dedikasi, aku buat surat perijinan itu. Besoknya surat itu sudah bisa diberikan pada dekanat untuk ijin kegiatan.

Aku merasa bisa bernafas lega, sampai akhirnya SKI, organisasiku yang lain, tanpa dosa memberikan tugas untuk mengurus peminjaman alat. Terus terang saat itu aku kelimpungan, namun aku mencoba untuk tetap tenang. Aku harap bisa menyelesaikan segala surat perijinan hari itu juga di kampus, karena malamnya aku ingin memulai melanjutkan makalah. Akan tetapi ada satu masalah, baterai mini tinggal separo dan aku lupa membawa charger. Aku sempat pesimis, tapi aku tetap mencoba. Yang mereka bilang “there is a will, there is a way” ternyata benar. Sekitar 2 jam berlalu dan semua surat selesai siang itu. Aku masih sempat menyimpannya di flashdisk dengan sisa 9% baterai di mini. Itulah bagian menyenangkan yang kedua, daya tahan baterai yang mengerikan.

Aku sampai pada keadaan dimana besok adalah deadline pengumpulan makalah. Aku dan Mulad saling mengirim sms dan sepakat untuk membagi tugas dalam pengerjaan makalah itu. Aku selalu berusaha agar tidak menjadi beban. Dalam pikiranku malam itu hanya agar makalah kami selesai dengan baik. Aku dan mini sudah berusaha keras, dua gelas kopi susu juga sudah habis. Tapi aku tahu, aku bukan mahasiswa super yang bisa mengerjakan makalah serumit itu dalam semalam. Aku sudah bertempur melawan rasa lelah dan kantuk, dan sialnya mereka menang. Hingga pada esok harinya makalah kami tidak benar-benar selesai, ada beberapa syarat yang masih kurang.

***

Keesokan harinya, berjalan perlahan di koridor Gedung 1 dengan sesekali menguap. Aku menemui Mulad menceritakan semuanya dan meminta maaf. Tapi sebagaimana Mulad yang aku tahu, dia yang memang berencana ingin mendalami sastra mengatakan sesuatu yang filosofis,

“Sudahlah, tidak usah dipikirkan lagi. Berhasil atau tidak itu nilainya sama, karena kita sudah berusaha.”

“ Kesuksesan yang sebenarnya itu ada pada proses, bukan hasil.” Katanya sok bijak.

Walaupun apa yang dikatakannya itu cuma mengutip kalimat populer, tapi kalau aku perempuan pasti saat itu mataku sudah berkaca-kaca. Sambil berjalan aku memikirkan kembali bagaimana hidupku 3 hari ini dan akhirnya tersenyum. Aku menemukan kelebihan ke 3 dari mini, yaitu memberikan kesempatan berproses lebih.

Yang Terpenting dari Kehidupan bukanlah kemenangan tapi bagaimana kita bertanding – Baron Pierre De Coubertin

Aku, Mulad, dan HP mini kesayanganku

Aku, Mulad, dan HP mini kesayanganku

27 November 2011

La ilaha illallah, Sebuah Puisi dari KH Mustofa Bisri

Filed under: Lumayan Serius — Cahyo Adi Nugroho @ 8:00 PM

La ilaha illallah

(KH Mustofa Bisri)


Kaum beragama negeri ini

Tuhan lihatlah betapa baik kaum beragama negeri ini

Mereka tak mau kalah dengan kaum beragama lain di negeri-negeri lain

Demi mendapatkan ridhlo-Mu mereka rela mengorbankan saudara-saudara mereka

Untuk merebut tempat terdekat di sisi-Mu

Mereka bahkan tega menyodok dan menikam hamba hamba-Mu sendiri

Demi memperoleh rahmat-Mu
Mereka memaafkan kesalahan dan mendiamkan kemungkaran

Bahkan mendukung kelaliman

Untuk membuktikan keluhuran budi mereka

Terhadap setanpun mereka tak pernah berburuk sangka

Tuhan lihatlah betapa baik kaum beragama negeri ini

Mereka terus membuatkan-Mu rumah rumah mewah diantara gedung-gedung kota

Hingga di tengah-tengah sawah dengan kubah-kubah megah

Dan menara-menara menjulang untuk meneriakkan nama-Mu

Menambah segan dan keder hamba-hamba kecil-Mu yang ingin sowan kepada-Mu

Nama-Mu mereka nyanyikan dalam acara hiburan hingga pesta agung kenegaraan
Mereka merasa begitu dekat dengan-Mu hingga masing-masing merasa berhak mewakili-Mu

Yang memiliki kelebihan harta membuktikan kedekatannya dengan harta yang Kau berikan

Yang memiliki kelebihan kekuasaan membuktikan kedekatannya dengan kekuasaan yang Engkau limpahkan

Yang memiliki kelebihan ilmu membuktikan kedekatannya dengan ilmu yang Engkau kurniakan

Mereka yang Engkau anugerahi kekuatan seringkali bahkan merasa diri Engkau sendiri

Mereka bukan saja ikut menentukan ibadah

Tapi juga menetapkan siapa ke surga siapa ke neraka

Mereka sakralkan pendapat mereka

Dan mereka akbarkan semua yang mereka lakukan

Hingga takbir dan ikrar mereka yang kosong bagai perut bedhug

Allahu Akbar walillah hilham

Syahadat inilah kesaksianku inilah pernyataanku inilah ikrarku

La ilaha illallah tak ada yang boleh memperhambaku kecuali Allah

Tapi nafsu terus memperhambaku
La ilaha illallah tak ada yang boleh menguasaiku kecuali Allah

Tapi kekuasaan terus menguasaiku
La ilaha illallah tak ada yang boleh menjajahku kecuali Allah

Tapi materi terus menjajahku

La ilaha illallah tak ada yang boleh mengaturku kecuali Allah

Tapi benda mati terus mengaturku

La ilaha illallah tak ada yang boleh memaksaku kecuali Allah

Tapi syahwat terus memaksaku

La ilaha illallah tak ada yang boleh mengancamku kecuali Allah

Tapi rasa takut terus mengancamku

La ilaha illallah tak ada yang boleh merekayasaku kecuali Allah
Tapi kepentingan terus merekayasaku

La ilaha illallah hanya kepada Allah aku mengharap

Tapi kepada siapapun Masya Allah aku mengharap

La ilaha illallah hanya kepada Allah aku memohon

Tapi kepada siapapun Masya Allah aku terus memohon

La ilaha illallah hanya kepada Allah aku bersimpuh

Tapi kepada apapun Masya Allah aku terus bersimpuh

La ilaha illallah hanya kepada Allah aku bersujud

Tapi kepada apapun aku terus bersujud

La ilaha illallah…

Masya Allah…

source: here

pic source: here

21 August 2011

Aku Lembut Seperti Minggu Pagi

Filed under: Lumayan Serius — Cahyo Adi Nugroho @ 5:43 AM

Satu hal yang paling menimbulkan masalah dalam menulis adalah bagaimana kita membuat satu kalimat untuk mengawalinya, aku selalu benci saat-saat diam yang aneh saat kita sudah membuka microsoft word tapi belum juga menulis.

Tuan muda sedang tidur, aku ini cuma patronusnya, aku mengambil bentuk sebagai lumba-lumaba. Seperti tuan, aku suka bermain-main, cukup ramah dan cerdas, jadi itulah alasan mengapa aku ini lumba-lumba.

Tuan pasti cukup lelah, setelah semalam tidak tidur karena berada di masjid Azzumar, menghabiskan malam minggu dan sebagian minggu pagi dengan main PES dengan teman-teman badranbaru. Aku tidak mau mengganggunya, dia terlihat manis tidur seperti itu, lembut seperti minggu pagi ini.

Aku berada di sini selalu terjaga untuk melindunginya, aku tahu Tuhan juga selalu melindunginya, aku cuma menemaninya. Biasanya kalau tidak puasa pasti saat ini dia keluar rumah untuk jalan-jalan, atau yg paling aku khawatirkan, dia kadang suka memanjat genteng rumah. Dia selalu ingin menyegarkan matanya, matanya dulu minus 3,25, tapi sekarang sudah turun drastis menjadi 1,25. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa melakukan itu, aku benar-benar ingin tahu, aku tidak melihat dia melakukan usaha yang berarti. Mungkin, cuma menurutku, karena belakangan ini dia sering melepas kacamatanya di kampus. Aku tahu, itu bukan kesengajaan, kacamatanya hilang di mushola FSSR. Sebenarnya aku selalu memperingatkannya agar tidak lupa menaruh sesuatu, tapi sepertinya saat berada di kampus, pikirannya terbelah kemana-mana.

Aku tidak mau dia kesepian, maka aku memilihkan beberapa teman untuknya, termasuk menyarankannya masuk SKI. aku rasa dia tidak pandai memilih teman dan menjaga image, aku yang melakukan semua itu.

Dibanding cuma menjadi patronus, aku lebih seperti sisi jahatnya. Aku sering menanam ide-ide gila ke otaknya. Ide-ide segar yang kadang dia salah mengeksekusinya, benar-benar odong. Suatu saat aku ingin berubah bentuk jadi serigala, terus bermain-main saat yang lain serius berorganisasi rasanya terlalu berlebihan. Aku ingin lebih cepat, pintar, berani, serius, dan tag team yang kuat.

Aku juga tahu, dan juga beberapa teman-temannya, dia sedang menyukai salah satu temannya di kampus, aku tidak mau menyebut namanya, dia secara tolol sudah blak-blakan di depan teman-temannya. Pokoknya dalam pandanganku di gadis yg manis, baik, sederhana, tidak pernah teriak-teriak, cukup beda dengan teman perempuannya yang dulu. Tapi entahlah, dia cuma menyukainya saja, tidak punya keinginan untuk mendekatinya lebih jauh, mungkin dia maunya dia jadi istrinya nanti, tuan memang otaknya benar-benar kegeser.

Tuan bilang dia suka menulis, tapi tulisannya selalu menyeramkan. Bahkan tulisanku saja lebih bagus dari dia, sayangnya aku tidak bisa melakukan ini setiap waktu. Ini aku cuma menunggu tuan bangun, paling-paling nanti jam 9nan,itu kalau pintu kamarnya tidak dijeder-jeder ibu sampai dia bangun.

Tapi bagaimanapun, jam berapapun dia bangun nanti, aku akan menemaninya lagi, aku akan membuat hari-harinya indah bagaimanapun caranya.

2 July 2011

Menginjak Dewasa Aku Makin Jarang Berkata “Aku Cinta Kamu”

Filed under: Lumayan Serius — Cahyo Adi Nugroho @ 10:45 PM

from : http://suratcinta.blogdetik.com/

Ayah Bunda,

Beranjak dewasa aku semakn jarang mengatakan aku cinta pada kalian. Aku merasa itu adalah kekanak-kanakan. Kenyataannya adalah aku mencintai kalian dan bahkan tak pernah berkurang selalu lebih dan lebih

Aku tahu kalian tahu, tetapi bagaimanapun aku ingin mengatakannya. Aku takkan pernah bisa membalas jasa kalian untuk membesarkanku. Ada banyak pengorbanan yang seorang anak tidak pernah sadari hingga mereka dewasa. Biaya tak pernah menjadi halangan buat kalian. Kalian terus memberi dan memberi sehingga menjadikanku seperti sekarang ini.

Aku sangat berterima kasih akan semua ini. Kalian telah mengajariku banyak hal, tapi yang terhebat dari semua ini adalah cinta kalian. Kekuatan dan semangat kalian adalah teladan buatku. Aku sadar apapun yang aku lakukan dan impikan, aku kanselalu dapat datang pada kalian dan kalian kan mendukungku.

Maafkan aku jika aku belum cukup mengatakan pada kalian, tapi ingatlah selalu bahwa aku sangat menyayangi kalian selalu.

Anakmu,

9 May 2011

Forgivable

Filed under: Lumayan Serius, Ustad Cahyo Al Ichi — Cahyo Adi Nugroho @ 10:09 PM

Memaafkan adalah hal yg sangat sulit dilakukan, kecuali oleh orang-orang yg punya bakat bisa melupakan kesalahan orang lain dengan mudah. Tapi seperti biasa, kecuali itu jumlahnya tak pernah banyak. Pernah aku berpikir mengapa bila kita menyayangi orang lain, sebanyak apapun orang itu melukai perasaan kita, kita masih bisa sabar dan memaafkan kelakuannya. Itu akan membuat dia diremahkan oleh orang yang dia cintai, orang itu akan menjadi sombong dan mengulangi kesalahannya berulang-ulang kali. Tapi kalau seperti itu endingnya pasti bisa ditebak, orang yang suka menyakiti tadi suatu hari akan sadar setelah yang dia sakiti merasa jenuh dan kehilangan perasaannya, dan dia akan berulang kali meminta maaf melalui cara apapun tapi terlambat. Karena saat orang disakiti, dia belajar untuk membenci. Tunggu dulu, kalian tidak berpikir bahwa itu terjadi padaku kan? Aku selalu benci terbawa suasana saat membuat tulisan.

Begini, aku akan berikan sedikit gambaran, aku punya mading di kamarku (yg biasanya ak temple gambar2 kartunku), yang kalau aku sedang marah aku tancapkan paku ke mading itu. Dan bila kemarahanku mereda aku cabut paku itu. Ak melakukannya dengan sukses ( mencabut paku), tapi ak melihat pada mading itu, itu tak akan sama lagi seperti sebelumnya, kalian tahu apa yg berbeda? Benar, bekas tancapan paku. Cuma itu satu2nya hal yang beda, gambar2 kartun di mading itu semua masih sama. Lalu apakah yang penting? What’s the point?. Dengar, kita asumsikan mading itu adalah hati orang lain, dan paku itu adalah kelakuan jahat kita. Kita mungkin bisa meminta maaf berulang kali (sekali lagi, dngan cara apapun). Selesaikah? Belum, masih ada hal yg membekas di hati orang yg kita sakiti. Pasti! Dan semuanya tidak akan sama lagi.

Sebenarnya aku bohong mengenai tulisan di atas, memaafkan tidak mungkin sesulit itu, itu cuma butuh sekian persen dari seluruh perasaan yg kita punya. Mengapa begitu sulit bagi kita untuk saling memaafkan.

Nb: Sebuah tulisan yg dibuat dengan sedikit perasaan yg terbawa.

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: