Tempat Parkir Kampus

22 September 2011

Menyambut Tahun Kedua (part. 2)

Filed under: 100 Hal Geje di Kampus, Edcom — Cahyo Adi Nugroho @ 7:52 PM

September ke 22 di tahun ini,

Masih seperti malam-malam kemarin, tidak ada PR yang berarti. Satu-satunya yang membuat kuliah lebih menyenangkan adalah menjadikan diriku sendiri mahasiswa yang suka terlambat masuk ke kelas, dan maju secara serampangan saat ada kelas presentasi.
Malam ini aku mungkin akan melewatkan beberapa segmen di sinetron Kupinang Kau dengan Bismillah dan meneruskan apa yang sudah aku mulai pada tulisan Menyambut Tahun Kedua bagian pertama dulu, belum terlalu dulu tapi.

Ini sudah malam jum’at kesekian kalinya di semester ini, besok kelas A libur, dan sudah dapat ditebak bahwa aku akan tertekan bila tidak melakukan apa2. Tulisan spinningku sudah aku post di blog si bos tadi sore, sore yang masih panas bahkan ketika aku sudah berada di ILC. Tidak tahu spinning ya? Haha itu adalah pekerjaan yang aku dapatkan di semester 2 dulu, pekerjaan pertamaku dalam hidup ini. Bayarannya lumayan untuk pekerjaan yang sebenarnya aku lebih arahkan untuk melatih kecepatan dan ketepatan menulisku. Seperti kata ibu, aku harus terus belajar. Aku ingin tumbuh menjadi pria yang pintar dan penulis buku.

Kembali ke topik utama kita sodara2, Menyambut Tahun Kedua MySpace

Tidak ada yang berubah selain perubahan itu sendiri, aku kini mendapati diriku bertambah pintar, cepat, berani, meskipun masih sering tertekan. Semua teman2ku juga seperti itu, seperti sebotol wine, kita bertambah luar biasa seiring waktu berjalan. Meskipun secara menyedihkan sekali kita memilih jalan yang berbeda, kita terus bersinar bahkan saat terpisah, seperti kembang api.

Mengesankan sekali nilai IPku bisa naik dari semester kemarin, di saat aku juga menjalankan 2 UKM di saat yang sama. 1 UKM dan 1 HMJ sebenarnya, cuma untuk membuat itu lebih simple aku menyebutnya 2 UKM. Semester kemarin itu aku sama sekali tidak melakukan apa-apa, kalau kalian ingin tahu, culun sekali, tidak terlihat dari monas.

Mengingat bahwa KRS semester ini belum aku serahkan ke pembimbing akademik kesayangan dan bagian TU, sesuatu sekali nomer induk C0310009 masih tercantum di kertas absen. C03 adalah kode bahwa aku adalah mahasiswa Sastra Inggris, 10 adalah tanda bahwa aku mahasiswa angkatan 2010, yang tahun lalu masih bangga karena menjadi yang termuda, dan tahun ini mulai membangun kembali rasa bangga karena sudah punya adik tingkat. 009 adalah nomer absenku, obvious. Nomer yang saat ini lagi jadi nomer favorit, yang juga aku jadikan jumlah recent post di samping itu.

Bersambung, yang berikutnya nanti tentang EDCOM, SKI, dan yang terbaru, BEM FSSR.

19 September 2011

I (coffee) English Department

Filed under: Edcom — Cahyo Adi Nugroho @ 8:28 PM

Untuk besok, September ke 27,

Tulisan yang tidak akan bergerak turun sampai saat itu tiba,

Hari dimana gathering besar Coffee Bean akan dilaksanakan, kalau tidak ada yang mengganggu akan dilaksanakan di Ruang 307, ruang yang sama saat aku dan teman-teman 2010 dulu melaksanakan malam inagurasi Closer.

Ya Allah lancarkanlah acara kami, beri kami kemudahan, tanamkanlah antusiasme yang cukup untuk semua partisipan, glory glory osmaru 2011,

Cinematic Orchestra for Freshman – Eternal Euphoria by English Department Alliance.

18 September 2011

Selayang Pandang

Filed under: Edcom — Cahyo Adi Nugroho @ 9:32 PM

Yo ! Edcom !

Edcom is one of community belongs to English Department. Every department has a community, and English Department Community belongs to us. Nothing too special, it’s just like another community, it just a little bit more organized. Now it’s time to let you know a little bit about this Edcom thing.

Don’t you ever for a second forget about the history, that’s what they said. The history of Edcom itself began in 2001. Edcom was born in that time. It’s hard to imagine how Edcom look like when it’s first formed. Edcom grew better and better as the time passed by. Edcom will always be regenerated by great crews, year by year.

Every community formed for a purpose. Edcom formed to help English department’s student do what they want to do. Edcom is kind of place for them to deliver their aspirations. There are so many divisions in Edcom, we can just choose one of them. You can be a treasurer if your favorite thing is collecting money. If you like writing, editing, or just collecting photo, just be a press division crew. You can join student affair division if you are someone with over-high social life. And so-on, you can join another division as well. Different people do different things, right?

There are many things happened during this years. I just can forget about Buber (breaking-fast) with orphans, that was so pleasuring. And then, if we can take back time, that was another educating agenda, we visited Solopos. Now we are still preparing for sovvet, a debate contest. That all agenda were just an intermezzo during our routine activities. I can feel very happy with just imagine that next time we will do another pleasuring activities again.

Okay, see you later, thanks in advance.

nb : sorry for my bad english,

16 September 2011

Legenda Wongasu (Part. II)

Filed under: Edcom — Cahyo Adi Nugroho @ 6:58 PM

SEPANJANG rel, tempat ia selalu membawa karung berisi anjing, anak-anak berteriak mengejeknya.

“Wongasu! Wongasu!”

Mula-mula Sukab tidak peduli, tapi kemudian perempuan yang disebut istrinya itu pun berkata kepadanya.

“Sukab! Mereka menyebut kita Wongasu!”

“Kenapa?”

“Katanya wajah kita mirip anjing.”

Mereka begitu miskin, sehingga tidak punya cermin. Jadi mereka hanya bisa saling memeriksa.

Betul juga. Mereka merasa wajah mereka sekarang mirip anjing.

“Anak-anak tidak lagi bermain dengan anak-anak tetangga, karena mereka semua mengejeknya sebagai Wongasu.”
Ia perhatikan, anak-anak mereka juga sudah mirip anjing. Perasaan Sukab remuk redam.

“Aduhai anak-anakku, kenapa mereka jadi begitu?” Sukab merenung sendirian. Kalaulah ini semacam karmapala karena perbuatannya sebagai pemburu anjing, mengapa hal semacam itu tidak menimpa para pemakan anjing saja? Bukankah perburuan anjing itu bisa berlangsung, hanya karena ada juga warung-warung penjual masakan anjing yang selalu penuh dengan pengunjung? Kenapa hanya dirinya yang menerima karmapala?

Orang-orang itu memakan anjing karena punya uang, begitu pikiran Sukab yang sederhana, sedangkan ia dan keluar-ganya memakan hanya kepalanya saja karena tidak punya uang. Sejumlah uang yang diterimanya dari para pemilik warung, yang mestinya cukup untuk membeli ikan asin dan nasi, biasa habis di lingkaran judi, tempat dahulu ia bertemu dengan perempuan itu-yang telanjur dicintainya setengah mati. Bukan berarti Sukab seorang penjudi, tapi ia juga punya impian untuk mengubah nasib secepat-cepatnya.

Namun kini mereka semua menjadi Wongasu.

“Tidak ada yang bisa kita lakukan selain bertahan hidup,” kata Sukab.

Perempuan itu menangis. Wajahnya yang cantik lama-lama juga menjadi mirip anjing. Meski sudah tidak melacur, tentu saja ia tetap ingin kelihatan cantik. Begitu juga Sukab. Anak-anak mereka terkucil dan setiap kali berkeliaran menjadi bahan ejekan.

Sukab tetap menjalankan pekerjaannya, dan pekerjaannya memang menjadi semakin mudah. Bukan karena anjing-anjing itu melihat kepala Sukab semakin mirip dengan mereka, melainkan karena penciuman mereka yang tajam mencium bau tubuh Sukab yang rupa-rupanya sudah semakin berbau anjing. Mereka datang seperti menyerahkan diri kepada Sukab yang telah sempurna sebagai Wongasu. Kadang-kadang Sukab cukup membuka karung dan anjing itu memasuki karung itu dengan sukarela, seperti upacara pengorbanan diri, meski Sukab tetap akan mengakhiri hidup mereka, tentu saja dengan cara yang tidak usah diceritakan di sini.

Ia akan datang dari ujung rel memanggul karung berisi anjing, melemparkannya ke hadapan pemilik warung berdingklik di tepi rel sehingga menimbulkan bunyi berdebum, dan segera pergi lagi setelah menerima sejumlah uang.

Di belakangnya anak-anak kecil berteriak.

“Wongasu! Wongasu!”

Pada suatu hari, ketika ia kembali ke gubugnya di pinggir kali, seseorang berteriak kepadanya.
“Wongasu! Mereka mengangkut keluargamu!”

Rumah gubugnya porak poranda. Seorang tua berkata kepadanya bahwa penduduk mendatangkan petugas yang membawa kerangkeng beroda. Perempuan dan anak-anaknya ditangkap. Mereka dibawa pergi.

“Ke mana?”

“Entahlah, kamu tanyakan sendiri saja sana!”

Waktu Sukab berjalan di sepanjang tepi kali, ia mendengar mereka berbisik-bisik dari dalam gubug-gubug kardus.

“Awas! Wongasu lewat! Wongasu lewat!”

“Heran! Kenapa kepalanya bisa berubah menjadi kepala anjing?”

“Itulah karmapala seorang pembunuh anjing.”

“Tapi kita semua makan anjing, siapa yang mampu beli daging sapi dalam masa sekarang ini? Bukankah justru….”

“Husssss…..”

Di kantor polisi terdekat Sukab bertanya, apakah mereka tahu akan adanya pengerangkengan tiada semena-mena sebuah keluarga di tepi kali.

“Oh, itu. Bukan polisi yang mengangkut, tapi petugas tibum.”

“Apa mereka melanggar ketertiban umum?”

Polisi itu kemudian bercerita, bagaimana salah seorang anak Sukab tidak tahan lagi karena selalu dilempari batu, sehingga mengejar pelempar batu dan menggigitnya. Bapak anak yang digigit sampai berdarah-darah itu tidak bisa menerima, lantas mengerahkan pemukim pinggir kali untuk mengepung gubug mereka. Kejadian itu dilaporkan kepada petugas tibum yang tanpa bertanya ini itu segera mengangkut mereka sambil menggebukinya.
Diceritakan oleh polisi itu bagaimana perempuan dan kelima anaknya itu berhasil dimasukkan ke dalam kerangkeng, hanya setelah memberi perlawanan yang luar biasa.

“Mereka menyalak-nyalak dan berkaing-kaing seperti anjing,” kata polisi itu, seolah-olah tidak peduli bahwa wajah Sukab juga seperti anjing.

“Hati-hati lewat sana,” katanya lagi, “mereka juga bisa menangkap saudara.”

“Kenapa Bapak tidak mencegah mereka, perlakuan itu kan tidak manusiawi?”

Polisi itu malah membentak.

“Apa? Tidak manusiawi? Apa saudara pikir makhluk seperti itu namanya manusia?”

“Mereka juga manusia, seperti Bapak!”

“Tidak! Saya tidak sudi disamakan! Mereka itu lain! Saudara juga lain! Sebetulnya saya tidak bisa menyebut Anda sebagai Saudara. Huh! Saudara! Saudara dari mana? Lagi pula, Anda bisa bayar berapa?”

Sukab berlalu. Nalurinya yang entah datang dari mana serasa ingin menerkam dan merobek-robek polisi itu, tapi hati dan otaknya masih manusia. Ia berjalan di kaki lima tak tahu ke mana harus mencari keluarganya.
Setelah malam tiba, ia kembali ke pinggir kali dengan tangan hampa. Ia berjongkok di bekas gubugnya yang hancur, menangis, tapi suara yang keluar adalah lolongan anjing.

Hal ini membuat orang-orang di pinggir kali lagi-lagi gelisah. Lolongan di bawah cahaya bulan itu terasa mengerikan. Ketakutannya membuat mereka mendatangi Sukab yang masih melolong ke arah rembulan dengan memilukan. Mereka membawa segala macam senjata tajam.

***
“MEREKA membantai Sukab,” ujar tukang cerita itu, dan para pendengar menahan nafas.

“Dibantai bagaimana?”

“Ya dibantai, kalian pikir bagaimana caranya kalian membantai anjing?”

“Terus?”

“Mereka pulang membawa daging ke gubug masing-masing.”

“Terus?”

“Terus! Terus! Kalian pikir bagaimana caranya mendapat gizi dalam krisis ekonomi berkepanjangan?”

Ada yang menahan muntah, tapi masih penasaran dengan akhir ceritanya.

“Yang bener aje, masa’ Sukab dimakan?”

Tukang cerita itu tersenyum.

“Lho, itu tidak penting.”

Orang-orang yang mau pergi karena mengira cerita berakhir, berbalik lagi.

“Apa yang penting?”

“Esoknya, ketika matahari terbit, dan orang-orang bangun kesiangan karena makan terlalu kenyang dan mabuk-mabukan, terjadi suatu peristiwa di luar dugaan.”

“Apa yang terjadi?”

“Ketika terbangun mereka semua terkejut ketika saling memandang, mereka bangkit dan menyalak-nyalak, lari kian kemari sambil berkaing-kaing seperti anjing!”

“Haaaa?”

“Kepala mereka telah berubah menjadi kepala anjing!”

“Aaahhh!!!”

“Mereka semua telah berubah menjadi Wongasu!!”

Mulut tukang cerita membunyikan gamelan bertalu-talu sebagai tanda cerita berakhir, dan mulut para asistennya membunyikan suara lolongan anjing yang terasa begitu getir sebagai tangis perpisahan yang menyedihkan. Para penonton terlongong dengan lidah terjulur.

Di langit masih terlihat rembulan yang sama, dengan cahaya kebiru-biruan menyepuh daun yang masih juga selalu memesona.

Pertunjukan akhirnya benar-benar selesai, tukang cerita itu memasukkan kembali wayangnya ke dalam kotak. Para penonton yang semuanya berkepala anjing itu pulang ke rumah, dengan pengertian yang lebih baik tentang asal-usul mereka sendiri. Guk!

*selesai*

nb : pesan dari Seno Gumira Ajidarma sebagai pengarang, cintailah semua makhluk Tuhan, termasuk anjing.

Legenda Wongasu (Part. I)

Filed under: Edcom — Cahyo Adi Nugroho @ 1:25 PM

Posting yang aku dedikasikan untuk temanku Mulad Aji Muhammad yang entah mengapa sering dipanggil Pak Haji di kampus, cerpen ini keren sekali dan disampaikan oleh Pak Yuyun waktu kelas pengantar prosa kemarin, cerpen ini merupakan karangan salah satu cerpenist terbaik indonesia, Seno Gumira Ajidarma, dan saya kopi dari blognya. Lalu apa hubungannya dengan Mulad, kemarin dia tidak bisa ikut pengantar prosa karena menjadi Ketua Panitia (ketupat) di salah satu agenda terpenting SKI, Kuas Pena. Aku sudah berulang kali bilang padanya bahwa kuliah itu tetap prioritas nomor satu, tapi dia tetap bersikeras ingin memimpin rapat.

Ini ceritanya, selamat membaca :

SUATU ketika kelak, seorang tukang cerita akan menuturkan sebuah legenda, yang terbentuk karena masa krisis ekonomi yang berkepanjangan, di sebuah negeri yang dahulu pernah ada, dan namanya adalah Indonesia. Negeri itu sudah pecah menjadi berpuluh-puluh negara kecil, yang syukurlah semuanya makmur, tetapi mereka masih disatukan oleh bahasa yang sama, yakni Bahasa Indonesia, sebagai warisan masa lalu.Barangkali tukang cerita itu akan duduk di tepi jalan dan dikerumuni orang-orang, atau memasang sebuah tenda dan memasang bangku-bangku di dalamnya di sebuah pasar malam, atau juga menceritakannya melalui sebuah teater boneka, bisa boneka yang digerakkan tali, bisa boneka wayang golek, bisa juga wayang magnit yang digerakkan dari bawah lapisan kaca, dengan panggung yang luar biasa kecilnya. Untuk semua itu, ia akan menuliskan di sebuah papan hitam: Hari ini dan seterusnya “Legenda Wongasu”.

Berikut inilah legenda tersebut:
“Untung masih banyak pemakan anjing di Jakarta,” pikir Sukab setiap kali merenungkan kehidupannya. Sukab memang telah berhasil menyambung hidupnya berkat selera para pemakan anjing. Krisis moneter sudah memasuki tahun kelima, itu berarti sudah lima tahun Sukab menjadi pemburu anjing, mengincar anjing-anjing yang tidak terdaftar sebagai peliharaan manusia, memburu anjing-anjing tak berpening yang sedang lengah, dan tiada akan pernah mengira betapa nasibnya berakhir sebagai tongseng.

Semenjak di-PHK lima tahun yang lalu, dan menganggur lontang-lantung tanpa punya pekerjaan, Sukab terpaksa menjadi pemburu anjing supaya bisa bertahan hidup. Kemiskinan telah memojokkannya ke sebuah gubuk berlantai tanah di pinggir kali bersama lima anaknya, sementara istrinya terpaksa melacur di bawah jembatan, melayani sopir-sopir bajaj. Dulu ia begitu miskin, sehingga tidak mampu membeli potas, yang biasa diumpankan para pemburu anjing kepada anjing-anjing kurang pikir, sehingga membuat anjing-anjing itu menggelepar dengan mulut berbusa.

Masih terbayang di depan matanya, bagaimana ia mengelilingi kota sambil membawa karung kosong. Mengincar anjing yang sedang berkeliaran di jalanan, menerkamnya tiba-tiba seperti harimau menyergap rusa, langsung memasukkannya ke dalam karung dan membunuhnya dengan cara yang tidak usah diceritakan di sini. Sukab tidak pernah peduli, apakah ia berada di tempat ramai atau tempat sepi. Tidak seorang pun akan menghalangi pekerjaannya, karena anjing yang tidak terdaftar boleh dibilang anjing liar, dan anjing liar seperti juga binatang-binatang di hutan yang tidak dilindungi, boleh diburu, dibinasakan, dan dimakan.

Apabila Sukab sudah mendapatkan seekor anjing di dalam karungnya, ia akan berjalan ke sebuah warung kaki lima di tepi rel kereta api, melemparkannya begitu saja ke depan pemilik warung sehingga menimbulkan suara berdebum. Pemilik warung akan memberinya sejumlah uang tanpa berkata-kata, dan Sukab akan menerima uangnya tanpa berkata-kata pula. Begitulah Sukab, yang tidak beralas kaki, bercelana pendek, dan hanya mengenakan kaus singlet yang dekil, menjadi pemburu anjing di Jakarta. Ia tidak menggunakan potas, tidak menggunakan tongkat penjerat berkawat, tapi menerkamnya seperti harimau menyergap rusa di dalam hutan.

Ia berjalan begitu saja di tengah kota, berjalan keluar-masuk kompleks perumahan, mengincar anjing-anjing yang lengah. Di kompleks perumahan semacam itu anjing-anjing dipelihara manusia dengan penuh kasih sayang. Bukan hanya anjing-anjing itu diberi makanan yang mahal karena harus diimpor, atau diberi makan daging segar yang jumlahnya cukup untuk kenduri lima keluarga miskin, tapi juga dimandikan, diberi bantal untuk tidur, dan diperiksa kesehatannya oleh dokter hewan setiap bulan sekali. Sukab sangat tidak bisa mengerti bagaimana anjing-anjing itu bisa begitu beruntung, sedangkan nasibnya tidak seberuntung anjing-anjing itu.
Namun, anjing tetaplah anjing. Ia tetap mempunyai naluri untuk mengendus-endus tempat sampah dan kencing di bawah tiang listrik. Apabila kesempatan terbuka, tiba-tiba saja mereka sudah berada di alam belantara dunia manusia. Di alam terbuka mereka terpesona oleh dunia, mondar-mandir ke sana kemari seperti kanak-kanak berlarian di taman bermain, dan di sanalah mereka menemui ajalnya. Diterkam dan dibinasakan oleh Sukab sang pemburu, untuk akhirnya digarap para pemasak tongseng.

“Sukab, jangan engkau pulang dengan tangan hampa, anak-anak menantimu dengan perut keroncongan, jangan kau buat aku terpaksa melacur lagi di bawah jembatan, hanya supaya mereka tidak mengais makanan dari tempat sampah,” kata istrinya dahulu.

Kepahitan karena istrinya melacur itulah yang membuat Sukab menjadi pemburu anjing. Hatinya tersobek-sobek memandang istrinya berdiri di ujung jembatan, tersenyum kepada sopir-sopir bajaj yang mangkal, lantas turun ke bawah jembatan bersama salah seorang yang pasti akan mendekatinya. Di bawah jembatan istrinya melayani para sopir bajaj di bawah tenda plastik, hanya dengan beralaskan kertas koran. Tenda plastik biru itu sebetulnya bukan sebuah tenda, hanya lembaran plastik yang disampirkan pada tali gantungan, dan keempat ujungnya ditindih dengan batu. Sukab yang berbadan tegap lemas tanpa daya setiap kali melihat istrinya turun melewati jalan setapak, menghilang ke bawah tenda.

“Inilah yang akan terjadi jika engkau tidak bisa mencari makan,” kata istrinya, ketika Sukab suatu ketika mempertanyakan kesetiaannya, “pertama, aku tidak sudi anak-anakku mati kelaparan; kedua, kamu toh tahu aku ini sebetulnya bukan istrimu.”

Perempuan itu memang ibu anak-anaknya, tapi mereka memang hanya tinggal bersama saja di gubug pinggir kali itu. Tidak ada cerita sehidup semati, surat nikah apalagi. Mereka masih bisa bertahan hidup ketika Sukab menjadi buruh pabrik sandal jepit. Meski tidak mampu menyekolahkan anak dan tidak bisa membelikan perempuan itu cincin kalung intan berlian rajabrana, kehidupan Sukab masih terhormat, pergi dan kembali seperti orang punya pekerjaan tetap. Ketika musim PHK tiba, Sukab tiada mengerti apa yang bisa dibuatnya. Kehidupannya sudah termesinkan sebagai buruh pabrik sandal jepit. Begitu harus cari uang tanpa pemberi tugas, otaknya mampet karena sudah tidak biasa berpikir sendiri, nalurinya hanya mengarah kepada satu hal: berburu anjing.

Itulah riwayat singkat Sukab, sampai ia menjadi pemburu anjing. Kini ia mempunyai beberapa warung yang menjadi pelanggannya di Jakarta. Tangkapan Sukab disukai, karena ia piawai berburu di kompleks perumahan gedongan. Konon anjing peliharaan orang kaya lebih gemuk dan lebih enak dari anjing kampung yang berkeliaran. Tapi Sukab tidak pandang bulu. Ia berjalan, ia memperhatikan, dan ia mengincar. Anjing yang nalurinya tajam pun bisa dibuatnya terperdaya. Apa pun jenisnya, dari chihuahua sampai bulldog, dari anjing gembala Jerman sampai anjing kampung, seperti bisa disihirnya untuk mendekat, lantas tinggal dilumpuhkan, lagi-lagi dengan cara yang tidak usah diceritakan di sini.

Perburuan anjing itu menolong kehidupan Sukab. Perempuan yang disebut istrinya meski mereka tidak pernah menikah itu tak pernah pergi lagi ke bawah jembatan, melainkan memasak kepala anjing yang diberikan para pemilik warung kepada Sukab. Seperti juga ia melemparkan karung berisi anjing kepada pemilik warung sehingga menimbulkan bunyi berdebum, begitu pula ia melemparkan kepala anjing itu ke hadapan perempuan itu. Anak-anak mereka yang jumlahnya lima itu menjadi gemuk dan lincah, namun dari sinilah cerita baru dimulai.

*bersambung dulu ya, otak mahasiswa jaman sekarang akan meledak kalau disuruh baca banyak-banyak*

15 August 2011

Why Do I Stay In English Department

Filed under: Edcom — Cahyo Adi Nugroho @ 9:50 PM

Today is my first day in this 3rd semester, and luckily my lecturer have been given us an essay task. A very simple task about my reasons for staying in this department. I never thought I will think about that, but now I will try to tell you.

The very first reason I choose this department because I like English. I have loved it when I’m in Elementary school. To think that we can still learn English in another department, that first reason is such a stupid reason. So I will tell you another reason.

The next reason I stay here, because I found many things are not like as I had imagined. English is not as easy as I think before. I found that in my first year I get many bad marks. So when I have learned pretty much about English, I decided to stay here.

Another reason is I can learn how to be a good writer here. Although this text is not a good one, but I can learn more and more by the time passed by. So when I get my job in the future, I can still write a book. I want to write a book someday.

To be honest, the main reason is because I have no intention to follow another SNMPTN. Come on, SNMPTN test is terribly difficult. At least once in my life, I ever thought that I can get into this department just because of a good luck. I have to give thanks to Allah for giving me this chance. Maybe this is my destiny. Now I will try do my best and prove that my entire existence in English Department is not just because of luck. MySpace

4 June 2011

Nama Untuk Osmaru – Coffee Bean

Filed under: Edcom — Cahyo Adi Nugroho @ 7:34 PM

Yaelah malam minggu malah ada karangtaruna MySpace , mau aku kemanakan rencana malam minggu yg aku bangun tadi.MySpace

Sebentar lagi jam 7 dan Ibuku pasti marah-marah kalau aku masih di kamar, ngeri MySpace

Waktu malam mingguku tinggal beberapa menit dan aku mau meninggalkan tulisan ini untuk teman-temanku yang baik.

Agenda rapat online-nya ternyata diculik lho, ga ada og. Mungkin karena kekacauan yang aku sebabkan tempo hari, maaf aku tdk bermaksud seperti itu. Kekacauan seperti itu Cuma bagian dari perjalanan MySpace

Karena aku sering merasa entah bagaimana dengan rapat Osmaru tahun ini, aku jadi jarang ikut rapat. Tapi sesuatu seperti rapat cuma hal teknis, yang penting acaranya sukses, iya kan? Cuma itu yang ada di pikiranku, sama seperti teman-teman aku ingin acara ini sukses. Oh iya! sepertinya aku diberi amanah untuk ambil bagian dalam kepanitiaan kan, bagian yang susah karena waktu itu aku paling malas ngadep PD III, ngeri, kalian harus tahu bagaimana cerita saat aku meminta perijinan ke PD III, tapi sekarang udah ganti og PN’ne, jadi ceritanya lain.

Aku adalah manusia yang turah-turah ide, aku mau mengusulkan nama kegiatan kita tahun ini, oh iya kita udah hampir semester III kan? Kita akan jadi kakak tingkat, hal yang paling menyenangkan saat menjadi kakak tingkat adalah karena kita punya adik tingkat.

Nama pertama yang aku usulkan dulu adalah Tea Party (Pesta Teh), The Awesome Pre-college Artistic Activity. Cukup sederhana tapi mengandung sesuatu, aku yakin itu mengandung sesuatu walaupun aku tdk tahu itu apa. Aku sudah membayangkan nanti bisa kita buat sticker dan pin dengan gambar cangkir teh yang besar MySpace. Tapi Tea Party dikatakan tidak menjual, terlalu sederhana dan tidak pantas untuk acara sekeren ini.

Jadi aku punya ide lain, dengan ide yg seperti mendarat begitu saja di kepalaku dan software Cambridge yang banyak kata susahnya. Aku persembahkan Coffee Bean,

“Cinematic Orchestra for Freshmen, Eternally Euphoria, and Becoming a Nobleman”

Lumayan kan, tapi sedikit lebei. It’s Okay, lebei adalah bagian dari hidup kita. Oke aku jelaskan filosofinya. Itu adalah satu judul acara dengan 3 sub judul.

Yang pertama Cinematic Orchestra for Freshmen, Tema Osmaru kita kan perfilman to, Cinematic itu adalah sesuatu yang berhubungan dengan cinema, movie, dan lain-lain. Sub Judul ini adalah bagian inti dari semua ini.

 Orchestra ya orchestra, apalagi. Lalu yang kedua Eternally Euphoria, Eforia yang tidak ada habisnya, ini adalah sebuah doa, aku ingin acara ini terus diingat adik tingkat, seperti aku yang tidak akan lupa Closer.

Yang terakhir tapi juga tidak kalah penting :  Becoming a Nobleman, nobleman secara tata bahasa adalah orang yang menerima noble, seperti usul salah satu teman kita tempo hari, kita bisa memberikan Award bagi peserta Osmaru (tapi tentu semua akan dapat kan, seperti kita dulu?). Maksud yang aku sisipkan tidak sesederhana itu, aku ingin selepas Malam Inagurasi mereka mendapat sesuatu yg lebih berharga dari sekedar Award. Yang bisa membuat mereka menjadi pribadi yang lebih baik.

Kata-katanya bisa kalian ganti karena itu sedikit ruwet, aku Cuma menyambung-nyambungkan begitu saja, mungkin B’nya bisa diganti Brain-Washing atau N’nya bisa kalian ganti Nuclear-reactor atau apalah, yang penting sekali lagi, acara kita sukses.

 Tulisanku lebei ya, It’s Okay, lebei adalah bagian dari hidup kita.MySpace

7 May 2011

Edcom – Leveling Up!

Filed under: Edcom — Cahyo Adi Nugroho @ 9:44 PM
edcom

Lambang Edcom FSSR (versi coklat)

Edcom, edcom, edcom.

English department community is the only organization which is made by English department students, so if you are an ED, and if you send a text to others and put your name with ED (just example, Bejo ED 10), you should know what Edcom is. You know, i think it should be Edor (English Department Organization) instead of Edcom, no I’m serious, Edcom is so more organized than a common community. Just join Edcom and you’ll know what i mean.

I won’t tell you about Edcom in great detail now, i just want to tell a story.

Just like another campus organization, everything is started with an upgrading.  Technically, Upgrading is an activity to upgrade. In my own words, upgrading is an activity to know each other before running the organization, oh you think so?

The story began in front of 3rd Building of FSSR, it was Saturday morning. New comers of Edcom stand up in line performing opening ceremony of upgrading. Just like common ceremony, there are must be someone giving a speech, and bla-bla-bla, the ceremony was end.

The agenda was continued with a preparation for departure to next destination. Yes you are right again, Tawangmangu, always Tawangmangu (I think forever will be there). A far, cold, and quiet place with such as beautiful scenery.  A suitable place to get away from the city pride for a moment.

Around 8 o’clock we were on a bus, an absence was done (just for formality because I know it does not change anything). The journey begins with a prayer, then the bus started to run. We were on our way to Solo, Karanganyar, then climbed into Tawangmangu. We’d better get ready, because it will be a lot of beautiful scenery during the trip.
The bus was getting higher and higher. To the sky
We arrived at Tawangmangu about 11 o’clock. If you think this is the lunch time, then you’re wrong. Upon arrival, there is someone who plays swing, lifts the goods, hold a mat, manipulate a laptop, install the projector cable, and pay attention to painting in the wall.
When everything’s ready, the first matter was presented, then we made some rules for the upgrading (not to be done, but to prepare for the event in the night). Useful material has been delivered, each group has been formed, yells and dances have been shown, so it’s the time to lunch!
The meals was pretty good if we remember that the fee is  just 20,000.
That are what happened during the first day, meals, materials, meals, materials, and then sleep. At least that is what the demission (ex member) knows, they do not know what can be done by a labile students like us in that day.
The second day,
Breakfast, then outbound. Two nice things in the morning, except if the order is reversed. I don’t know what they were thinking about, but the outbound truly imitate a kingdom era. Let me tell you, the first one we went to the site by horse cart, then we save a princess, and finally a water war.
I’m sure that we could take a lesson from these activities even though I do not know what it is.
After that we are bathing, eating, and preparing to go home.
Well, well, and who would think that the upgrading has finished. Forgive me for telling the story with terrible details. But overall those activities were very enjoyable.

We can feel very happy with just imagine that next year we will perform that event again.

Okay, see you later, thanks in advance.

6 May 2011

Analisa Awal Kasus BB Erwin

Filed under: Edcom — Cahyo Adi Nugroho @ 10:35 PM

Segera setelah sampai di kampus, ak (cahyo), Salman, dan mulad pergi ke mushola karena pangen cepet2 sholat duhur keburu waktu habis (prlu diketahui saat itu hmpir jam stngah 3). Kami bertemu Mas Ibnu (Ketua Umum SKI), Mas Haryo (Bendahara Umum), Mas Tristan (Sekertaris Umum – posisi yg suatu saat ingin ak tempati) dan beberapa ukhti sdg bersihin sekre SKI yg baru. Setelah sholat pun kami jaga image dgn ikut bersih2. Setelah mlakukan kegiatan yg tdak terlalu brguna (hampir mndekati tidak brguna) sperti mmindahkan kardus yg sdah diatur mas ibnu ke tmpat lain dngn alasan efesiensi tempat yg sbnernya tdk mngubah apapun, dan obrolan2 konyol akhi2 labil, kami (sbenarnya mereka) mmasang papan nama sekre SKI d tmpat yg ga bisa ak jelaskan (pokoknya letak papan nama itu mmungkinkan org yg ga hati2 bisa kejedot kepalanya).

Oh iya, sbenernya yg pengen ak bahas adalah setelah itu. Ak istirahat sebentar, mengecek hape yg tadi ak silent dan ak masukkan dalam tas. Ada 4 inbox, 3 diantaranya isinya tanya ke ak soal BB Erwin yg hilang saat upgrading. Ak mulai suudzon pada pngirim sms itu jngan2 ak yg dituduh (padahal mukaku aja innocent, akakak). Biasanya ak tidak peduli pada apapun tapi kalau udah seperti itu maka ceritanya lain.

Detektif mode : On

Ak akan berikan urutan cowo yg pertama masuk kamar setelah acara outbond : korti, ak (cahyo), Erwin. Tapi kami masuk hampir bersamaan karena ingin rebutan kamar mandi. Korti langsung pergi ke kmar mandi cowo yg kiri (yg ada airnya). Jdi d kamar tinggal ak (yg secara tolol kbingungan dimana mnaruh baju ganti) dan erwin. saat itu Erwin keluar kamar, dngan begitu sempurna sudah ak tidak punya alibi. Tapi itu cuma beberapa detik, krena setelah ketemu baju ganti ak segera mnyusul mereka “berdua” biar dapat giliran antri. Aku kira Erwin sudah di dalam kamar mandi yg kanan karena pintunya tertutup, tpi ak salah, beberapa saat setelah itu pintu kamar terbuka sndiri, dngan kata lain, pas ak “antri” tadi  Erwin TIDAK berada di dalam kamar mndi. Pas ak mau masuk, barulah Erwin datang. Akulah yg masuk kamar mandi, jadi si Erwin tidak punya alibi lagi. Aku di dlam kamar mndi sekitar beberapa mnit karna cuma cuci muka, kaki dan tangan, trus ganti baju (itu karena airnya habis), tapi saat itu tentu lebih dari cukup bagi Erwin untuk melakukan sesuatu. Aku keluar kamar mndi dan menuju ke kamar (ingat korti msih ada di kamar mndi). Disana sudah ada Jeje yg kebingungan mencari hapenya dan BB Erwin, deo, salman, mulad, dan tentu saja Erwin. beberapa saat kemudian haikal baru datang. Jadi total ada 8 orang penghuni kamar yg bisa saja jadi tersangka, tpi itu bisa dipersempit karena ada beberapa fakta:

  1. Salman dan mulat sudah berada di halaman pertama kali, ak tahu itu krena ak keluar bersama mereka, tpi kemudian ak masuk lagi krena mengambil slayer
  2. Ak keluar kamar setelah mengambil slayer dan berpapasan deo di luar, ak menyuruh deo mengambil slayer (ingat yg sudah diluar itu cuma salman dan mulat)
  3. Inilah fakta yg terpenting, yang tahu 5 hape itu ada dibawah meja cuma jeje dan Erwin, karena ak denger jeje trus mnjawab dngan kalimat yang sama saat ditanya. “tadi semua hape gw taru sini, di bawah meja, udah taruh sini aja ya win biar aman, gitu gw blang ma Erwin..”
  4. Kalian tahu kan ak tidak terlalu deket ma jeje dan Erwin, jadi ak ga tau pasti yg mana jaket jeje, apalagi dompet erwin.

Oh iya, ada yg belum tau urutan kasusnya ya? Gini, pulang dari outbond hape jeje dan BB Erwin dinyatakan hilang, beberapa saat setelah mencari, Hape jeje ketemu di jaket jeje (tidak mngkin kan hape bisa pindah sndiri). Lalu baru muncul kasus berikutnya yaitu uang d dompet Erwin jg hilang 200 ribu. Tapi lalu sebelum pulang bisa2nya BB Erwin ketemu di tas jeje (padahal udah digeledah berkali2 oleh org yg berbeda2)

  1. Inilah bagian terkonyol dalam kasus ini, uang 200rb yg hilang dari dompet Erwin. kira2 siapa lagi yg tahu dimana persisnya Erwin menyimpan dompet sebelum outbond?

Jadi ak akan mengarang cerita. Mengarang cerita dan menuduh, beda.

Erwin dan jeje paling akhir berada di kamar sebelum outbond, jeje menaruh 5 hape (hapeku, deo, haikal, jeje, Erwin) dibawah meja karena ak tahu ak sembrono hapeku masih ak taruh diatas meja (thanks je..). Erwin mengunci jendela, mereka menutup pintu lalu pergi. Setelah acara outbond, korti, ak, Erwin masuk ke kamar, korti langsung ke kamar mandi. Erwin mengikuti korti keluar kamar, ak mengambil baju ganti lalu keluar kamar, berdiri di depan kamar mandi, Erwin masuk lagi ke kamar, meletakkan hape jeje di jaket jeje, mengambil hape dan uangnya sendiri. Jeje, deo, salman, mulat masuk kamar. Jeje mengeluarkan semua hape yg ditaruhnya dibawah meja yg ternyata tinggal 3. Setelah mencari2, jeje mendapati hapenya ada di jaket. Penggeledahan pertama dilakukan, tpi gini, kira2 tas siapa yg tidak mungkin digeledah orang lain? Dimana tempat teraman menyembunyikan barang korban yg hilang? Tepat, tas korban itu sendiri. Beberapa kali proses penggeledahan dilakukan tapi tidak juga ditemukan. Sesaat sebelum penggeledahan terakhir, Erwin menaruh BBnya sendiri di tas jeje. Untuk 200rbu yg hilang mngkin cuma karangan Erwin.

Tapi masih ada yg mengganjal di cerita yg ak buat itu karena sebenarnya ak tidak tau :

  1. Siapa yg terakhir keluar kamar sebelum outbond.
  2. Apa yang terjadi saat ak ada di kamar mandi
  3. Kalau ceritaku benar, apa sebenarnya yg ada di pikiran Erwin

Tapi kalau itu salah (ak percaya ak salah), dan pelakunya bukan Erwin, berarti akan mematahkan fakta bahwa 95% kejahatan dan pemerkosaan dilakukan oleh orang2 terdekat korban. Orang2 akan berpikir bahwa pelakunya ingin mengdu domba Erwin jeje, kira2 siapa yg hubungannya tidak dekat dengan Erwin (selain ak).  Tapi kalau kita kaji lebih jauh, siapa yg dengan tolol melakukan hal itu, trik murahan seperti itu terlalu konyol untuk mengadu domba seseorang, itu akan malah mempererat persahabatannya. Pelakunya tentu tidak bodoh bukan, jadi apa yg sebenernya terjadi di sini? Hanya Allah yg tahu, mari kita serahkan semua padaNya, Allah akan menunjukkan yg benar itu benar, yg salah itu salah.

4 February 2011

The Black Parade

Filed under: Edcom — Cahyo Adi Nugroho @ 2:47 AM
Suatu hari aku mendapat tugas mengarang cerita narative dalam bahasa inggris. Berhubung aku suka dengan grup musik luar negeri MCR, aku membuat cerita menyadur dari lagu mereka. Ini adalah cerita dalam bahasa inggris karanganku yang terbaik. Dan ini sengaja aku share.
The Black Parade
There was something mysterious about Helena that fascinated me. She was very good in all her studies and excellent in chemical . Weird,, no one knew anything about her. No one knew she lived, or who her parents were, or even what she did after school. When I asked something seriously she always said something funny and changed the subject. However I had love her and she had become my best girl friends.
One day in the summer, when I met her after school, he walked very fast and I hurried after her. He was silent as we waited at the bus stop. I touched her arm to tell her if in the city center would be present marching band. I asked her to saw that with me. She nodded her head to indicate an agreement. I was very happy because it would be a sweet dating.

Today, after school I ran very fast. I would go to my familiar place. In five minutes, I arrived in Mr. Iero’s flower shop. I bought a big bunch of roses for Helena. I knew, Helena very liked rose and I believed I had right. I must run faster to arrived the city center on time. The place that she was silent as she waited at the city center.

I touched her arm and she turned her head back. Helena looked happy with my coming. With a big smile I gave the flower to Helena. She smiled, she looked very beautiful today. Not along time, we heard a trumpet sound. Ya, the parade would be present. I knew, this is the first time she saw a parade. But, this sounds, this voices, this situations was not strange for me, when I was a young boy, my father took me in to the city, to saw a marching band. However I was very happy today.
The next day sun shined brightly, sky looked blue. There was nothing a clump of cloud. The birds chirped receive         the morning. The wind blew softly. Today I visited Helena’s house. The place that I very liked to come. I knocked on the door. But, no one answered. I tried to open the door, I shocked because the door unlocked. I called Helena but it still silent. I shocked when I read a message in my hand phone that indicated if Helena was cure in hospital. Immediately I went to hospital, I ran to Helena’s room but I was late. I was so late because I saw doctor closed her body with white cloth. I saw Helena’s parent cry, they said that Helena contract a cancer. They gave me a letter from Helena and wished I well. I wanted to cry when I read the letter. In the letter, Helena wrote “That if you say, goodbye today, I’d ask you to be true, cause the hardest past of this is leaving you”. And now I knew, what’s the reason Helena never told me about her disease. And I knew too, the parade that we saw together yesterday was the last parade for us. And the parade would be a black parade in my life. So long and good night to Helena.
maaf bila ada grammar yang tidak benar,
sumber : parkirankampus.blogspot.com

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: