Tempat Parkir Kampus

7 February 2012

Pindah Blog

Filed under: Perjalanan dari Rumah ke Kampus — Cahyo Adi Nugroho @ 7:20 AM

.kami segenap jajaran Cahyoichi Corporation mengucapkan terimakasih telah mengunjungi blog parkiran kampus selama ini, kami sudah memutuskan untuk pindah.

alamat kami yang baru adalah di cahyoichi.blogspot.com , semua post dan komen sudah disalin ke sana. Kunjungi ya, makasih.

30 December 2011

Filed under: Lumayan Serius — Cahyo Adi Nugroho @ 8:51 AM

“dubito ergo cogito, cogito ergo sum.”

(aku ragu maka aku berpikir, aku berpikir maka aku ada)

                                      -René Descartes (1596-1650)

31 December 2011

@sudjiwotedjo Bicara Banyak Hal Keren Hari Ini

Filed under: Lumayan Serius, Pengaruh TV dan Media — Cahyo Adi Nugroho @ 12:03 AM

Hari ini, jum’at terakhir di taun 2011, Mbah Sudjiwo Tedjo bicara banyak hal di twitter, ini sebagian twitnya saya abadikan:

@sudjiwotedjo

Makanku dikit cuuuuk…itupun harus digubrak2 ma Bu Dalang.Klo gak ya lupa makan.Tp kalau rokok ma kopi waah gak bs pisah

(more…)

6 December 2011

Following Follower Itu Seperti Mencintai

Filed under: Tips Metal — Cahyo Adi Nugroho @ 11:46 PM

Following follower itu seperti mencintai.

Kalau ingin dicintai, belajarlah untuk mencintai lebih dulu. Dalam hal ini, telanlah semua ego teman-teman dan mulailah menfollow seseorang. Masalah apakah mereka akan memfollback teman-teman itu nomer 16. Kecuali kalau zodiak kalian adalah #leo, kebanyakan #leo memang merasa gengsi untuk follow lebih dulu.
(more…)

2 December 2011

Bagaimana Aku dan Mini Melawan Dunia

Filed under: Cerpen, Lumayan Serius — Cahyo Adi Nugroho @ 11:18 PM

September ke 22 di tahun ini,

Masih seperti malam-malam kemarin, aku galau di tempat tidur karena tidak ada PR yang berarti. Satu-satunya yang membuat kuliahku lebih menyenangkan selama ini adalah menjadikan diriku sendiri mahasiswa yang selalu datang terlambat, maju serampangan saat presentasi, dan yang paling seru, aktif dalam organisasi kampus.

Perkenalkan, namaku Cahyo Adi Nugroho, sebut saja Cahyo, si tokoh utama, mahasiswa semester 3 jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Seni Rupa (FSSR), di salah satu kampus ternyaman sedunia, Universitas Sebelas Maret yang disingkat UNS.

Fakultas sastra, dengan bahasa apapun, adalah jurusan dengan tekanan tertinggi setelah jurusan Seni Rupa. Permasalahan mendasar yang sering dialami oleh seniman, atau juga penulis, adalah mood. Padahal sumber daya mood yang bisa aku temui di fakultasku benar-benar terbatas. Padahal sumber daya mood yang aku temui di kampusku sangat terbatas. Maka dari itu aku ikut kegiatan organisasi fakultas (UKM). Adapun UKM yang tidak beruntung karena aku datangi itu adalah Edcom, SKI, dan yang terbaru, BEM fakultas. Cara yang kulakukan berhasil, bagaimana secara luar biasa di UKM aku mendapatkan banyak teman yang menyenangkan, dan secara teknis itu akan menambah sumber daya mood.

Selalu ada konsekuensi, tidak mungkin ada Yin tanpa Yang. Dengan banyaknya agenda yang aku punya sekarang, aku harus pintar membagi waktu. Tugas harus diselesaikan di waktu luang ketika tidak ada agenda, tugas makalah harus menjadi sesuatu yang bisa dikerjakan di sekre atau mushola. Disitulah peran netbookku, tokoh utama kedua di cerpen ini, HP mini 210 yang sudah kubeli sejak awal masuk kuliah. Aku sengaja memilih netbook karena laptop itu terlalu berat. Aku kan harus terus bergerak, mengejar mimpi, ya aku harus mengurangi beban yang kubawa. Sampai jam 11 malam ini aku belum sadar kalau beberapa hari mendatang akan terjadi banyak hal yang tidak terduga.

***

Pagi ini aku berjalan perlahan menuju ruang kelas, mengingat kembali bagaimana saat pertama kali aku berjalan dari parkiran menuju ruang kelas, melewati koridor-koridor gedung I FSSR. Dulu aku mungkin punya banyak teman untuk menemani kemanapun pergi saat berada di kampus, bergerombol menuju ruang kelas. Itu karena dulu kita masih sama-sama culun dan belum tau seluk-beluk tempat ini, belum tau juga cerita kalau di kamar mandi pojok di lantai 3 pernah ada hantu ibu-ibu. Kalau sekarang mah ibaratnya kita mau jalan mundur sambil merem pun juga ga akan nyasar

Tapi kini agak beda, tidak bisa lagi dirasakan kesan rasa bangga telah menjadi mahasiswa. Semua terasa seperti biasa, seperti waktu kita berjalan di halaman SD kita dan melihat burung-burung  gereja terbang saat kita mendekat, semacam itu.

Aku berhenti sejenak ketika mataku menangkap sebuah pamphlet yang cukup menarik, informasi mengenai lomba karya tulis yang diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian, dengan tema pertanian tentunya. Aku kemudian tertarik, dan ketika aku sudah tertarik akan sesuatu, susah untuk melepaskannya. Aku lantas mengajak alah satu temanku, sebut saja Mulad. Mulad yang aku iming-imingi dengan pengalaman dan sertifikat yang akan kita dapat, langsung menyetejuinya.

***

Memang sudah banyak hal yang kulalui bersama miniku sampai semester ke 3 ini. Aku akan menceritakan beberapa hal yang terjadi di minggu awal semester ini. Lomba karya tulis yang kami daftar kemarin memang benar-benar di luar ranah kami. Tapi kami yakin, dengan motivasi ingin mencari pengalaman dan sertifikat. Lagipula ada HP mini yang sangat sangat bisa dibawa ke mana-mana untuk hotspotan mencari bahan makalah. Itulah alasan pertama. Mudah dibawa ke mana-mana.

Selalu saja ada pihak yang mengganggu rencana kita, dan membuat hidup lebih seru. Dengan deadline pengumpulan makalah yang tinggal 3 hari lagi, Edcom, organisasi jurusan yang aku ikuti, memberikan amanah untuk membuat perijinan kegiatan ospek.

“Cahyo, kamu tolong urus bagian perijinan ya, makasih.” Komando dari Inti, calon Sekertaris Edcom.

Aku tidak suka nada bicaranya. Tapi sebagai mahasiswa penuh dedikasi, aku buat surat perijinan itu. Besoknya surat itu sudah bisa diberikan pada dekanat untuk ijin kegiatan.

Aku merasa bisa bernafas lega, sampai akhirnya SKI, organisasiku yang lain, tanpa dosa memberikan tugas untuk mengurus peminjaman alat. Terus terang saat itu aku kelimpungan, namun aku mencoba untuk tetap tenang. Aku harap bisa menyelesaikan segala surat perijinan hari itu juga di kampus, karena malamnya aku ingin memulai melanjutkan makalah. Akan tetapi ada satu masalah, baterai mini tinggal separo dan aku lupa membawa charger. Aku sempat pesimis, tapi aku tetap mencoba. Yang mereka bilang “there is a will, there is a way” ternyata benar. Sekitar 2 jam berlalu dan semua surat selesai siang itu. Aku masih sempat menyimpannya di flashdisk dengan sisa 9% baterai di mini. Itulah bagian menyenangkan yang kedua, daya tahan baterai yang mengerikan.

Aku sampai pada keadaan dimana besok adalah deadline pengumpulan makalah. Aku dan Mulad saling mengirim sms dan sepakat untuk membagi tugas dalam pengerjaan makalah itu. Aku selalu berusaha agar tidak menjadi beban. Dalam pikiranku malam itu hanya agar makalah kami selesai dengan baik. Aku dan mini sudah berusaha keras, dua gelas kopi susu juga sudah habis. Tapi aku tahu, aku bukan mahasiswa super yang bisa mengerjakan makalah serumit itu dalam semalam. Aku sudah bertempur melawan rasa lelah dan kantuk, dan sialnya mereka menang. Hingga pada esok harinya makalah kami tidak benar-benar selesai, ada beberapa syarat yang masih kurang.

***

Keesokan harinya, berjalan perlahan di koridor Gedung 1 dengan sesekali menguap. Aku menemui Mulad menceritakan semuanya dan meminta maaf. Tapi sebagaimana Mulad yang aku tahu, dia yang memang berencana ingin mendalami sastra mengatakan sesuatu yang filosofis,

“Sudahlah, tidak usah dipikirkan lagi. Berhasil atau tidak itu nilainya sama, karena kita sudah berusaha.”

“ Kesuksesan yang sebenarnya itu ada pada proses, bukan hasil.” Katanya sok bijak.

Walaupun apa yang dikatakannya itu cuma mengutip kalimat populer, tapi kalau aku perempuan pasti saat itu mataku sudah berkaca-kaca. Sambil berjalan aku memikirkan kembali bagaimana hidupku 3 hari ini dan akhirnya tersenyum. Aku menemukan kelebihan ke 3 dari mini, yaitu memberikan kesempatan berproses lebih.

Yang Terpenting dari Kehidupan bukanlah kemenangan tapi bagaimana kita bertanding – Baron Pierre De Coubertin

Aku, Mulad, dan HP mini kesayanganku

Aku, Mulad, dan HP mini kesayanganku

27 November 2011

Jurusan Kuliahku Penuh Tekanan

Filed under: Apapun Tentang Kampus — Cahyo Adi Nugroho @ 9:33 PM

Faktor Pertama: Mood

Jurusan Sastra, dengan bahasa apapun, adalah jurusan dengan tekanan tertinggi setelah jurusan Seni Rupa. Permasalahan mendasar yang sering dialami oleh seniman, atau juga penulis, adalah mood. Padahal sumber daya mood yang bisa aku temui di fakultasku benar-benar terbatas. Bagaimana secara luar biasa mood bisa membuat tugas kita langsung selesai, atau terbengkalai. Katakanlah seorang teman mahasiswa dari jurusan seni rupa mau bikin lukisan. Kanvas, kuas, cat (kucing?), dan kopisusunya sudah ada, tinggal nggambar, tapi kalau moodnya tiba-tiba turun dia mungkin bisa pura-pura mati. Atau juga teman dari sastra, teman satu jurusan, satu gedung, mau bikin analisa prosa, yang biasanya harus terdiri dari 1500 kata tiap tugas. Komputer sudah nyala, lagu di WMP playlistnya udah adhem semua (aku kasih tahu sekalian contoh lagu adhem itu lagunya Westlife yang Fying Without Wings, More Than Word, dll), tinggal ngetik doang  aja kalau nggak ada mood langsung galau.

Sial aku berkali-kali mbenerin kata karena autocorrect Ms.Word sering sok tahu

Mungkin ada diantara kalian yang bilang bahwa tugas itu bisa dipaksakan walau sedang nggak ada mood. Iyee bener, tapi bukan di Sastra Seni Rupa. Kalau di Ekonomi (saatnya nyerang frontal, kekeke), kita ada data angkanya, kita masukin ke tabel, hitung dan simsalabim selesai. Mood cuma berperan pada kecepatan pengerjaan. Sedangkan di jurusan yang ngawur pun bener kaya di fakultasku, mood itu jadi faktor super menentukan. Tidak ada data disini, otak kitalah datanya, inspirasi untuk menggambar atau menulis itu ada di dalam sini semua, dan moodlah yang mengeluarkannya.

Mood yang bagus itu adalah sesuatu yang rapuh, yang bisa muncul dan hilang seperti nyala lampu ruang 204 gedung 4

Nanti lanjut ke faktor berikutnya, oh iya sumber gambar: here

La ilaha illallah, Sebuah Puisi dari KH Mustofa Bisri

Filed under: Lumayan Serius — Cahyo Adi Nugroho @ 8:00 PM

La ilaha illallah

(KH Mustofa Bisri)


Kaum beragama negeri ini

Tuhan lihatlah betapa baik kaum beragama negeri ini

Mereka tak mau kalah dengan kaum beragama lain di negeri-negeri lain

Demi mendapatkan ridhlo-Mu mereka rela mengorbankan saudara-saudara mereka

Untuk merebut tempat terdekat di sisi-Mu

Mereka bahkan tega menyodok dan menikam hamba hamba-Mu sendiri

Demi memperoleh rahmat-Mu
Mereka memaafkan kesalahan dan mendiamkan kemungkaran

Bahkan mendukung kelaliman

Untuk membuktikan keluhuran budi mereka

Terhadap setanpun mereka tak pernah berburuk sangka

Tuhan lihatlah betapa baik kaum beragama negeri ini

Mereka terus membuatkan-Mu rumah rumah mewah diantara gedung-gedung kota

Hingga di tengah-tengah sawah dengan kubah-kubah megah

Dan menara-menara menjulang untuk meneriakkan nama-Mu

Menambah segan dan keder hamba-hamba kecil-Mu yang ingin sowan kepada-Mu

Nama-Mu mereka nyanyikan dalam acara hiburan hingga pesta agung kenegaraan
Mereka merasa begitu dekat dengan-Mu hingga masing-masing merasa berhak mewakili-Mu

Yang memiliki kelebihan harta membuktikan kedekatannya dengan harta yang Kau berikan

Yang memiliki kelebihan kekuasaan membuktikan kedekatannya dengan kekuasaan yang Engkau limpahkan

Yang memiliki kelebihan ilmu membuktikan kedekatannya dengan ilmu yang Engkau kurniakan

Mereka yang Engkau anugerahi kekuatan seringkali bahkan merasa diri Engkau sendiri

Mereka bukan saja ikut menentukan ibadah

Tapi juga menetapkan siapa ke surga siapa ke neraka

Mereka sakralkan pendapat mereka

Dan mereka akbarkan semua yang mereka lakukan

Hingga takbir dan ikrar mereka yang kosong bagai perut bedhug

Allahu Akbar walillah hilham

Syahadat inilah kesaksianku inilah pernyataanku inilah ikrarku

La ilaha illallah tak ada yang boleh memperhambaku kecuali Allah

Tapi nafsu terus memperhambaku
La ilaha illallah tak ada yang boleh menguasaiku kecuali Allah

Tapi kekuasaan terus menguasaiku
La ilaha illallah tak ada yang boleh menjajahku kecuali Allah

Tapi materi terus menjajahku

La ilaha illallah tak ada yang boleh mengaturku kecuali Allah

Tapi benda mati terus mengaturku

La ilaha illallah tak ada yang boleh memaksaku kecuali Allah

Tapi syahwat terus memaksaku

La ilaha illallah tak ada yang boleh mengancamku kecuali Allah

Tapi rasa takut terus mengancamku

La ilaha illallah tak ada yang boleh merekayasaku kecuali Allah
Tapi kepentingan terus merekayasaku

La ilaha illallah hanya kepada Allah aku mengharap

Tapi kepada siapapun Masya Allah aku mengharap

La ilaha illallah hanya kepada Allah aku memohon

Tapi kepada siapapun Masya Allah aku terus memohon

La ilaha illallah hanya kepada Allah aku bersimpuh

Tapi kepada apapun Masya Allah aku terus bersimpuh

La ilaha illallah hanya kepada Allah aku bersujud

Tapi kepada apapun aku terus bersujud

La ilaha illallah…

Masya Allah…

source: here

pic source: here

Apakah Bumi Sepanas Ini?

Filed under: Pengaruh TV dan Media — Cahyo Adi Nugroho @ 3:33 PM

Hari ini panas, seperti kemarin, dan satu hal yang harus kalian tahu adalah kita nggak bisa membuat adhem diri kita walaupun dengan ndengerin lagu Westlife yang Flying Without Wings.

Ada beberapa pengalaman yang aku alami yang menunjukkan ketidakmasuk-akalan panas bumi. Salah satunya adalah ketika suatu hari aku pergi makan siang dengan Salman. Seperti biasa kami pergi makan ke tempat yang maaf, aku rahasia-in dulu nama tempatnya, aku nggak mau ada hysteria masal. Setelah kami selesai makan, kami pulang. Aku berniat mengambil helm dan menyentuh bagian permukaannya. Bujubuneng panasnya bukan main dan ninggalin bekas merah di jariku. Aku berpikir sejenak, kalau lama takutnya otakku nggak kuat. Ayolah sodara-sodara, berapa lama tadi aku makan. Berapa waktu terlama yang bisa dicapai 2 orang cowok untuk makan siang, walaupun sambil ngobrol. Itulah yang membuatku tak habis pikir mengenai panasnya bumi sekarang.

Bumi memang semakin susah diprediksi, seperti perasaan seorang wanita. Padahal ras manusia tidak didesain untuk tahan menghadapi perubahan iklim yang ekstrim seperti ini, bahkan dengan teknologi yang mereka punya sekarang. Kecuali kalau mereka nanti akhirnya berhasil termutasi seperti yang aku jelasin di post ini.

Hal berikutnya yang mengikuti perubahan iklim di bumi ini adalah harga es. Kampret banget kalau harga es nanti akan naik drastis dikarenakan melonjaknya permintaan. Masalahnya nanti mungkin orang yang gagal termutasi akan lebih kepanasan lagi dari sekarang, tiap lima menit pasti beli es, karena update status juga ga bisa bikin mereka sembuh dari haus. Jadi ya itu tadi, ibaratnya tiap lima menit mereka kudu beli es.

Walaupun kita, aku dan kalian, sama-sama tahu yang menyebabkan bumi menjadi sepanas ini adalah manusia sendiri. Makanya saat ini aku tidak ingin mengajak kalian ngobrol tentang itu, udah terlalu sering, pasti bosen. Makanya yang ingin aku tulis di tulisan yang berikut2nya adalah banyangan-bayangan keadaannya nanti akan seperti apa, teruslah berimajinasi.

terimakasih untuk gambarnya => here

13 November 2011

Sepasang Sayap yang Terbuat dari Kaca

Filed under: Perjalanan dari Rumah ke Kampus — Cahyo Adi Nugroho @ 10:05 PM

Aku memang hanya manusia, sebesar apapun keinginanku untuk bisa terbang.

Ketika dihadapkan pada pilihan apakah aku tetap mencoba untuk terbang atau mengikuti arus, teori fisika dan realita menekanku untuk tetap pada arus yang benar, kadang ada sedikit keinginan untuk mencoba, tapi cukup kuat untuk membuatku melakukan hal gila. Aku lalu membuat sepasang sayap yang terbuat dari kaca.

Aku berhasil, dan memulai penerbangan pertamaku, di suatu pagi yang dingin, cukup dingin untuk menulis sebuah cerita. Aku mencoba terbang lurus ke kampus, untuk mengetahui seberapa dekat kampusku jika aku menarik garis lurus dari rumah. Aku melewati sawah yang mulai menguning dan petani yang terlihat bahagia bisa hidup jauh dari kesombongan kota. Aku melewati jalan raya, bis-bis menyebalkan yang membuat perjalanku ke kampus jadi semi-action itu terlihat begitu kecil dan rapuh. Aku akhirnya sampai di kampus.


Manusia memiliki sifat manusiawinya yang membuat seorang manusia itu manusia. Sebenarnya saat aku memulai terbang dari rumah tadi, pada hakekatnya aku sudah jatuh. Ketika melewati parkiran kampus, terbesit keinginan untuk terbang lebih jauh lagi, dan akupun melakukannya. Aku terus terbang melewati perbatasan kotaku. Lalu terus lebih terbang jauh lagi, dan aku berhasil mengelilingi Indonesia.

Aku ingin terbang lebih jauh, aku ingin ke Eropa. Dengan kecepatanku waktu itu, akan butuh 9 jam untuk sampai ke Eropa. Tapi itu tidak masalah, aku korbankan lagi satu jam untuk bisa sekalian mengelilingi Asia. Aku memutuskan untuk tidak terbang terlalu tinggi, aku takut melewatkan setiap detail hamparan Asia. Aku menyaksikan bagaimana Tembok China, yang bahkan bisa dilihat dari bulan, terlihat begitu jelas dari jarak sedekat ini. Aku juga melihat hamparan putih Siberia yang luas, yang langsung menyambung ke Rusia. Ketika melihat kutub utara, aku berbelok ke barat, menelusuri Rusia dan akhirnya menuju Eropa.

(bersambung), pic source: here

5 November 2011

Sapi-sapi Galau

Filed under: Tulisan Brutal — Cahyo Adi Nugroho @ 11:01 PM

“Malam ini mungkin baru Idul Adha, tapi hatiku sudah ter-kurban untukmu sejak lama.”

Malam ini gema takbir berkumandang bersahut-sahutan, bernada rendah ke tinggi atau sebaliknya, di desa yang damai, daerah istimewa Badranbaru.

Besok dalah hari yang spesial, karena cuma setahun sekali aku bisa memblodoti sapi bersama teman-teman. Memblodoti berasal dari kata blodot, yang artinya kotoran sapi yang masih ada di perutnya. Menyenangkan sekali melakukan perjalanan bersama squad Badranbaru ke sungai dengan mobil pick-up berkelengkapan perut dan usus sapi, dan perang perebutan wilayah pemblodotan dengan squad desa lain, yang juga berkelengkapan perut dan usus sapi. Apapun yang terjadi kami siap, semuanya tentu akan jatuh ke sungai kan?. Tapi kami akan jatuh dengan tersenyum, karena kami tahu kamilah yang akan menang.

Kembali ke beberapa jam yang lalu, saat aku pergi ke dapur masjid. Ada rumah baru semi permanen berdiri untuk menaungi 7 sapi yang siap untuk disembelih, menikmati malam terakhir mereka dengan galau. Sekilas aku melihat sapi-sapi tersebut terbagi menjadi 2 geng, geng sapi putih dan sapi coklat. Aku tidak tahu apa ada satu masalah diantara mereka, entah karena mereka berselisih menentukan nama sapi-band mereka atau karena hal lain, tapi 2 geng sapi itu berdiri membelakangi satu sama lain. Dilihat dari jumlah, geng sapi putih ada 4 dan sapi coklat ada 3. Walau menang jumlah, sapi putih masih enggan memulai perang, karena dia tau kadang jumlah bukan factor utama penentu kemenangan, mungkin yang coklat kalah jumlah, tapi bisa saja mereka sapi mutan. Atau bisa juga karena mereka sudah tahu kalau besok semua juga akan mati, makanya tidak mau saling menambah penderitaan.

Aku perlahan mulai mengembangkan bakat baruku, membaca pikiran hewan. Kalau sapi-sapi itu punya facebook, kira-kira mereka akan buat status seperti ini :

Sapi putih 1 : “malam ini adalah mungkin yang terakhir kalinya aku bisa update status, aku cuma mau bilang aku minta maaf pada semua temanku, senang mengenal kalian, berpisah dengan kalian mungkin adalah hal terberat di hidupku, aku sayang kalian.”

Sapi putih 2 : “lagi berada di rumah baruku bersama @sapi putih 1, @sapi putih3, @sapi putih 4, malam masih panjang coy!

Sapi putih 3 dan 4 nge-like status Sapi putih 2

Sapi putih 4 komen status Sapi putih 1 : “sabar ya pi😦 …”

Barangkali seperti itu, kalau yang sapi coklat tadi kelihatannya tidak punya facebook, punyanya twitter, itupun mereka belum bisa cara mainnya.

Sekian dulu ya, selamat malam Sapi-sapi.

pict source : here

Older Posts »

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: